Dari Meeting Sampai Deciding

 Di tengah obrolan makan siang, salah satu teman memaparkan kalau sering kali meeting tidak ada hasilnya. mungkin ini terkait dengan mengelola ekspektasi. Apa hasil dari sebuah meeting? Tentunya orang datang ke sebuah meeting dengan hartanya masing-masing. 

Tapi kalau dilihat dari kata kerja yang mewakili pertemuan tersebut, maka kita ketemu dengan kata meeting. Kalau meeting, berarti kita hanya sekadar bertemu. Karena tujuannya adalah bertemu. 

Namun, akan berbeda kalau kita mengatakan ikut dalam  discussing. Kita melakukan diskusi dengan para peserta meeting dan hasilnya adalah sebuah pembahasan. ini sudah lebih baik karena tidak hanya sekadar bertemu, tetapi sudah ada hasil yang dikeluarkan, yaitu hasil diskusinya. 

Mungkin ada juga yang akan mengatakan, mari kita berbicara atau talking. Maka kita sepanjang waktu pertama tersebut kita hanya bicara. Bisa jadi hanya sekadar mengeluarkan unek-unek, tidak sedang membahas sesuatu yang perlu didiskusikan lebih dalam. Sebanyak pembicaraan bisa saja terbahas semua hal yang tidak penting. Kembali kepada harapan saat hendak melakukan sesi talking ini. 

Kenapa ya? Mungkin kita harus menyadari bahwa kata yang cukup tepat mewakili adalah deciding. memutuskan karena di dalam pertemuan tersebut ada hal yang setelah pulang bisa menjadi landasan untuk melakukan sesuatu yaitu berupa keputusan bersama.  Di sinilah arti deciding untuk bermukakan terhadap poin-poin diskusi dalam pertemuan. 

Hal yang simple  yang bisa diubah adalah mengubah kerangka berpikir kita terhadap sebuah pertemuan. Kalau kita masih menggunakan kata meeting, maka jangan kaget kalau hasilnya kadang-kadang hanya sekadar hal-hal yang tidak penting terbahas.

Saatnya kita beralih menggunakan kata "deciding". Memastikan bahwa pertemuan kita itu akan menghasilkan keputusan yang bermanfaat untuk kedepannya. 


Tulisan Sebelumnya
Dilema Menulis yang Efektif


Saat Menulispun dituntut tidak mubazir

Kini, setiap kalimat harus ditulis secara efektif. Saya mengikuti kursus di Tempo Institute untuk mendalami konsep kalimat efektif secara komprehensif. 

Kalimat adalah unit dasar untuk menyampaikan gagasan secara tepat. Sebuah kalimat terdiri dari beberapa kata yang harus dipilih dengan cermat. Rangkaian kalimat efektif akan menghasilkan paragraf yang efektif.

Kalimat efektif adalah kalimat yang menyampaikan gagasan secara ringkas, jelas, dan akurat agar mudah dipahami pembaca. Keringkasan berarti menggunakan kata secara efisien agar gagasan tersampaikan dengan utuh dan jelas. Kejelasan berarti menggunakan struktur kalimat yang logis agar mudah dipahami pembaca. Kecermatan berarti menggunakan pilihan kata, tata bahasa, dan ejaan yang tepat agar gagasan tersampaikan secara benar.

Bagaimana? Masih enak dibaca? Kalimatnya efektif, tetapi tidak memiliki rasa. Di mana sentuhan manusianya berada? Masya Allah, kan bagaimana otak ini diciptakan bagi setiap manusia. Sehingga setiap kalimat terasa terhubung secara langsung dengan penulisnya.

Tulisan Sebelumnya
Customer Experience Based Marketing dengan Mengenali Apa itu Persona

Persona - Memahami Seorang yang Fiktif di antara jutaan Pelanggan

Ceritanya berawal ketika saya berada di sebuah pertunjukan storytelling yang apik, yang disampaikan oleh CMO Danatara Dendi Tegar Danianto dengan gaya piawai marketer ulung. Presentasi yang sistematis ini berhasil membawa saya hanyut kembali ke memori beberapa tahun lalu dengan kata yang bernama PERSONA.

Tapi saya tidak akan membahas tentang framework cantik yang menyambungkan Customer Experience Based Marketing dengan performansi Bisnis perusahaan mengangkat contoh kasus Bluebird-nya. 

Kali ini saya mendapatkan sebuah angle lain tentang how to define the Persona dari sebuah buku yang berjudul "The Inmates Are Running the Asylum" yang saya temukan saat bertanya kepada Gemini tentang the best book that gives a reference about what is Persona. Sebuah buku lama, tapi masih relevan.

Long short-nya, cerita ini tentang tentang sebuah sistem hiburan video di pesawat terbang yang dibangun dibuat oleh Sonny Corporation, Namanya SonyTrans Com. Huru hara terjadi saat engineer dan designernya berantem tentang bagaimana disain tampilan interaksi untuk sistem yang mereka bangun. Apakah tampilan dengan menu yang canggih sehingga orang yang techie bisa nyaman menggunakannya? Atau seorang anak usia 9 tahun yang polos dapat dengan mudah menggunakan menu yang ada? Dilema bukan?

Ringkasnya, akhirnya dipilihlah Clevis seorang pria usia 65 tahun sebagai sosok utama yang dipilih mewakili semua penumpang pesawat. Membuatnya mudah dan happy berarti bisa membuat semua orang di pesawat senang.

Akhirnya disain pun memiliki northstar yang jelas. Sebuah persona ideal yang menjadi referensi dalam merancang interaksi customer journey. Pertanyaan apakah kalau hal ini ada akan membuat Clevis senang? menjadi validasi utama dari sebuah insiatif.

Gimana? Apakah Anda akan tetap bersikukuh dalam penjara ego Anda sendiri? Atau Anda mulai  goyah untuk menerima sebuah angle baru, "oh ini ya pentingnya kehadiran persona dalam bisnis?".

Referensi 

Cooper, A. (2004). The inmates are running the asylum: Why high-tech products drive us crazy and how to restore the sanity (Vol. 2). Indianapolis: Sams.


Tulisan Sebelumnya
The One-Minute Margin
The Paper Resistance

Atau tentang
Resilience in Doing Research


Berputar putar dalam Mencari Definisi

Ini curhatan setelah satu minggu, muter muter dan akhirnya menyadari bahwa definisi itu penting. Kenapa bisa muter muter karena seperti mengenali gajah, kadang kita berjumpa dengan kakinya seperti pohon. Atau dengan belalainya yang mirip dengan ular. Atau telinganya yang lebar seperti daun talas raksasa. Namun itu semua adalah sebuah perjalanan.

Tergesa-gesa adalah masalah kedua. Saat kita menemukan kaki gajah yang serupa pohon. Kita tidak sabaran, ngulik, oo gajah itu bentuknya hanya sebuah pohon, tinggi nggak sampai 180cm, bentuknya bulat, dari daging, dan terasa keras. Padahal itu baru kaki gajah. Kita sudah melanjut terlalu detil, dan baru tersadar saat menyentuh bagian lain. Lho koq ini ada badannya seperti bulatan besar sekali? Koq ini ada daun talas yang sesekali mengipas? Itulah kenyataan pahit akibat tergesa gesa. 

Itu belum selesai, kita kemudian berganti haluan, oo gajah itu mungkin seperti daun talas tadi. Lebar, halus, dan sesekali bergerak seperti kipas memukul. Tergesa-gesa lagi kita mengamati, mencatat, menyambung nyambung tanda. Dan akhirnya kita ketemu, lho ini koq menempel pada sebuah bulatan cukup besar bernama kepala.

Dan akhirnya kita bertanya pada sebuah pertanyaan mendasar. Apakah gajah itu berbentuk kipas atau seperti pohon? dan diterangkan bukan keduanya. Lihat, apa yang kita tahu, belum tentu mewakili kenyataan yang sebenarnya. Gajah itu memiliki empat pohon kaki besar dan dua daun talas raksasa, berbadan bulat besar seperti bakso berukuran raksasa dan seterusnya.

Lebih dalam lagi, setelah bertanya sana sini, ternyata baru saja ada orang yang menyelesaikan jawaban untuk pertanyaan apa itu gajah sekarang ini. 

Akhirnya kasus ditutup, dengan belajar apa yang telah dituliskan orang lain. Bukan hanya belajar mencari tetapi juga belajar menerima dan mempelajari apa yang dilakukan orang lain. Semangat lagi? masa sih nggak ada kurangnya. Eh iya, ternyata ini belum ... (kembali ke scopus)


Tulisan sebelumnya
Menjadi Solo Researcher

Bingung, Mencari, Terbentur, Tertawa dan Memulai Lagi - Sendiri

Setiap perjalanan sebenarnya adalah pengalaman individual. Kalau sempat membaca  The Alchemist Paulo Coelho, di dalamnya dijelaskan konsep pembelajaran sejati hanya didapat melalui aksi individu. 

Kok jadi mirip ya dengan pengalaman hampir setiap orang yang menjalani pendidikan lanjutan. Ada saat-saat mana mendapati diri dalam kebingungan. Kita berusaha mencari pegangan dengan atau tanpa petunjuk. Terkadang juga dinding buntu membentur tanpa penjelasan. Kembali lagi tertawa menikmati kebodohan dan pengandaian. Dan diakhiri dengan semangat untuk memulai kembali.

Kita sendiri yang menarik garis hikmah dalam perjalanan.Kita mungkin berjalan bersama. Bisa dengan keluarga, teman, atau orang yang sama sekali baru duduk di samping kita. Namun, nilai yang didapat setiap orang pasti berbeda. Kita dan pembelajaran diri yang diperoleh akan berbeda dengan orang yang berada dekat dengan diri kita sendiri.

Kalau mencari referensi, mungkin teori Flow oleh Mihaly Csikszentmihalyi dapat membantu memahami situasinya. Dalam bab buku The flow experience and its significance for human psychology, ada beberapa poin menarik yang bisa kita temukan. Manusia dengan usia 70 tahun hanya bisa menerima 185 miliar bit informasi dalam hidupnya. Dia juga mengakui bahwa diri kita memiliki kendali untuk melawan insting, contohnya, kita bisa puasa 12 jam padahal perut kita lapar. Atau tidak semua yang ada di dalam gen diri berjalan sesuai apa adanya; ada kemampuan adaptif yang dimiliki seseorang untuk menyesuaikannya.

Lebih mendalam lagi, bisa diajak mengenali konsep Flow, di mana orang menjadi hanyut dalam sebuah situasi. Diambil contoh seorang dokter bedah: mengapa begitu tenggelam dalam pekerjaannya? Karena dia mendapatkan feedback di setiap tindakannya. Oh, ada darah; dia harus tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Atau seorang pemanjat tebing. Dia begitu menikmati dirinya bergelantungan karena kendali penuh terhadap risiko yang dihadapinya. 

Sehingga pada akhirnya kita akan menemukan bahwa setiap kita itu sendiri menjalani, bertemu dengan individu-individu yang sama-sama sedang menikmati flow mereka.


Referensi
Paulo Coelho, The Alchemist, 1988, https://play.google.com/store/books/details/Paulo_Coelho_The_Alchemist?id=FzVjBgAAQBAJ
Csikszentmihalyi, M. (1988). The flow experience and its significance for human psychology. Optimal experience: Psychological studies of flow in consciousness, 2, 15-35.

The One-Minute Margin

Ada fenomena menarik di beberapa stasiun LRT Jakarta bila Anda berada di sana sekitar 5 sampai 10 menit sebelum jam 8 malam atau jam 9 pagi. Di sana akan ada belasan orang berdiri, bersandar, malas bergerak di sekitar pintu masuk gerbang elektronik yang kosong, hanya sesekali ada orang yang melintas. Mereka tidak sedang mengantre karena kerusakan sistem atau kendala teknis. Mereka bergerombol, diam, dengan tangan memegang kartu uang elektronik dan mata yang sesekali melirik tajam ke arah layar jam jadwal keberangkatan atau layar ponsel.

Begitu angka di jam digital berpindah dari 19.59 ke 20.00, suasana berubah drastis. Bak pelari yang mendengar tembakan pistol start, gerombolan ini serentak maju, mengantre dan menempelkan kartu mereka ke mesin pembaca. Fenomena yang sama terulang pada pukul 9 pagi. Perilaku warga kota yang biasanya tergesa-gesa mengejar waktu menjadi sangat sabar dalam mengatur waktu, lalu kembali seperti semula dalam waktu 2 menit saja.

Kok bisa ya, selisih detik bisa membuat banyak orang bergerak serentak ? Mengapa hal sekecil 1 menit dapat mengubah arus pergerakan manusia di sebuah stasiun besar?

Bila Anda mencari jawaban, ternyata jam dinding stasiun bukanlah benda pemberi waktu, melainkan bagian dari struktur “akuntansi” yang ada di dalam kepala setiap orang.

Kondisi seperti ini ternyata dapat ditemukan penjelasannya, oleh Richard Thaler, seorang pakar ekonomi peraih Nobel yang mengungkap rahasia di balik perilaku unik ini melalui konsep Akuntansi Mental. Dalam artikelnya,  “Mental Accounting Matters” yang ditulis di tahun 1999, Thaler menjelaskan bahwa manusia mengelola uang secara fleksibel. Dalam pikiran manusia, uang dikelompokkan ke dalam “kotak” atau rekening mental masing-masing sesuai dengan penggunaannya 

Di sinilah letak kejutannya. Saat membayar segelas kopi seharga 40.000 di kafe favoritnya, orang tidak berkeberatan sama sekali. Namun, pada orang yang sama, dia bisa merasa “rugi” secara psikologis jika harus membayar Rp10.000 tambahan untuk layanan transportasi. Mengapa? Dalam pikiran orang, kalau mau minum kopi, itu sudah ada posnya, yaitu “hiburan” atau “gaya hidup” yang lebih diatur, sedangkan biaya perjalanan harus ketat dan efisien karena berasal dari pos “transportasi”.

Menunggu di depan gerbang LRT hingga jarum jam menunjukkan pukul 8 malam bukan sekadar urusan hemat recehan. Itu adalah sebuah ritual pertahanan kognitif. Ini adalah cara individu memastikan bahwa “pos transportasi” mereka tidak “bocor”. Bagi pikiran manusia, kehilangan Rp10.000 karena salah tapping satu menit lebih awal terasa seperti kekalahan besar dalam sistem akuntansi pribadi mereka—sebuah pelanggaran terhadap prinsip ekonomi yang kita buat sendiri di dalam kepala.

Pada akhirnya, kerumunan di depan gerbang stasiun itu adalah bukti nyata bahwa kita semua adalah “akuntan” bagi diri kita sendiri. Kita tidak hanya menghitung uang; kita menghitung nilai, perasaan, dan waktu—satu menit demi satu menit.

Bagaimana ikutan menunggu jam 9 pagi atau jam 8 malam? Pintu elektroniknya nggak rusak lho.

References
Thaler, R. H. (1999). Mental accounting matters. Journal of Behavioral decision making, 12(3), 183-206.

PS:
Masih tentang LRT, mau tahu kenapa banyak orang membaca buku di LRT sekarang?

The Paper Resistance

Fenoma Membaca Buku di Area Publik Di kafe-kafe yang bising di sekitaran Jakarta Selatan atau di sela-sela padatnya gerbong KRL rute Bekasi, sesuatu yang "aneh" sedang terjadi. Di tengah lautan kepala yang menunduk menatap layar bercahaya, Anda akan menemukan satu atau dua orang yang memegang benda dari masa lalu, ya, sebuah buku fisik. Mereka membalik halaman dengan tangan, menandai pojok kertas, dan tidak terganggu sedikit pun oleh notifikasi yang biasanya mengatur hidup kita. Sekilas, ini tampak seperti tren gaya hidup vintage atau hanya sekadar aksi pamer intelektual di media sosial. Namun, jika kita melihat lebih dekat, fenomena ini adalah sebuah anomali yang mulai konsisten.

Bagaimana mungkin benda yang "berat", tidak memiliki fitur search, dan butuh pencahayaan manual ini bisa bertahan — bahkan mulai kembali diminati — di era di mana semua informasi dunia tersedia dalam satu jentikan jari? Pertanyaannya, adakah yang memicu fenomena ini? Apakah kita sedang menjadi saksi dari sebuah bentuk perlawanan diam-diam terhadap tirani algoritma media sosial? Atau ada sesuatu yang lebih mendalam lagi sedang terjadi di dalam otak kepala kita saat jemari kita menyentuh tekstur kertas?
membaca buku membangun ulang otak dan membekas secara biologis.jpg
Jawabannya ternyata lebih menarik daripada sekadar masalah perubahan budaya. Dari penelitian yang dilakukan di Emory University, ada temuan yang berbeda. Para peneliti menemukan bahwa proses membaca novel secara mendalam adalah peristiwa biologis. Dan ini dibuktikan dengan memanfaatkan teknologi Magnetic Resonance Imaging atau MRI selama 19 hari pada 21 responden. Ringkasnya, saat seseorang membaca, ia masuk ke dalam sebuah aliran narasi yang panjang; terjadi perubahan konektivitas di sekitar bagian otak yang mengelola bahasa dan sensorimotorik. Hebatnya lagi, perubahan ini tetap tersimpan meskipun halaman buku telah ditutup. Efek biologis dari perubahan ini tetap bertahan selama beberapa hari ke depan. Otak kita secara harfiah "ditulis ulang" sementara, membuat kita seakan-akan merasakan pengalaman fisik dari karakter dalam cerita melalui mekanisme embodied semantics.

Sehingga fenomena yang terlihat seperti tren nostalgia saat orang-orang kembali memegang buku di tempat umum. Sebenarnya, itu adalah upaya kita untuk mengembalikan fungsi kognitif untuk fokus secara mendalam, kembali ke buku. Buku adalah solusi teknologi untuk memulihkan kontrol pada otak kita sendiri. Kecanggihan masa depan terjungkal oleh lembaran-lembaran kertas yang dibundel menjadi buku, sebuah artefak dari masa ratusan tahun lalu.

References
Berns, G. S., Blaine, K., Prietula, M. J., & Pye, B. E. (2013). Short-and long-term effects of a novel on connectivity in the brain. Brain connectivity, 3(6), 590-600.

Berapa Kebutuhan Sample ?

Ternyata ada rumus untuk menghitung sample. 

Total Sample Size = (Number of Variables * EPV) / Event Rate

Jumlah Variabel yang akan diuji.

EPV (Events Per Variable) - Jumlah Event untuk Variabel misalkan 10 - 20 event per variabel

Event Rate - Prakiraan Diterimanya Sebuah Kejadian

Jadi Kalau ada 5 variabel yang akan diuji, kemudian ambil milkan EPV nya 15, dan event ratenya 10% maka

Total Sample = 5 x 15 / 0.1 = 750 Sample.


Berapa Jumlah Variabel yang Dibutuhkan?

Pertanyaan menarik berikutnya adalah berapa sih jumlah variabel yang dibutuhkan dalam sebuah pengujian statististik?

Untuk kasus saya, jumlah variabel adalah jumlah variabel yang dianggap penting. Berarti sesuai hipotesis penelitian. Misalkan 5, ya 5 variabel itu yang dijadikan referensi.

Selanjutnya bisa ditambahkan variabel lain bila diperlukan. Perhatikan jumlah sampel ya.


Perbedaan Regresi Linier dan Regresi Logistic

Kata petunjuknya adalah outputnya, kalau dia binary misalkan laki-laki, perempuan, 0 atau satu, maka dia dipakai regresi logistic, kalau dia bersifat angka kontinue, digunakan  regresi linier.

Dari Persepsi dan Perilaku Menjadi Survey dan Pengamatan

Ada pertanyaan menarik lagi minggu lalu? Kapan kita pakai data sekunder dan data primer? Ini menarik. 

Dan semakin menarik tentang apa itu persepsi dan bedanya dengan prilaku?

Atau apa bedanya survey dan pengamatan dalam sebuah penelitian?

Apa bedanya statistik dan machine learning, meskipun menggunakan metode yang sama?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang mengalir 2 minggu yang lalu. Saat pertanyaan bagaimana memvalidasi sesuatu yang akan dibuat ? Jawabannya tentu butuh tool untuk memvalidasinya.

Inilah yang membawa tool bernama statistik. Kemudian lahirnya, pertanyaannya apa bedanya satistik dan machine learning (artificial intelligence). 

Hal ini sangat menarik seperti halnya, orang yang memiliki mistar - pengaris. Pengaris ini bisa menjelaskan ukuran panjang sebuah benda. Dan dengan pengaris itu, kita bisa mengukur benda lain yang belum diketahui panjangny.

Mungkin yang dibutuhkan sekedar pertanyaan

Pertumbuhan AI Generative sudah tidak terbendung lagi. Semakin banyak orang yang menggunakan dengan beragam moda, ada yang teks, gambar, bahkan video bahkan musik. 

Pergeseran perilakupun terjadi, yang semula dari mencari, membaca, menelaah dan memahami dari  banyak sumber. Ini yang dinamakan googling. Saat ini orang sudah mulai mengetikan pertanyaan, menerima jawaban instan, mempertanyakan kembali. Dan ini lah lahir budaya prompting.

Inilah yang mungkin akan menjadi catatan ke depan, dimana tulisan akan berfokus pada pertanyaan penting yang lahir dari pikiran mereka. Sisanya adalah mesin ai generatif yang menjawabnya.

Jangan Terpaku pada Abstrak: Mengapa Kita Perlu Baca Jurnal Sampai Tuntas

 Pernah nggak sih kamu merasa udah nemu jurnal yang "kayaknya" pas banget buat topik riset kamu, terus langsung masukin ke daftar referensi—padahal cuma baca abstraknya? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Banyak peneliti, bahkan yang sudah senior, sering terjebak di kebiasaan ini. Sayangnya, kebiasaan ini bisa jadi boomerang yang cukup serius dalam proses riset, terutama untuk kamu yang sedang menyusun kajian literatur atau systematic literature review (SLR).

Abstrak memang ibarat “etalase” dari sebuah artikel ilmiah. Tapi seperti halnya etalase toko, kadang apa yang ditampilkan belum tentu menggambarkan keseluruhan isi toko. Ada kalanya abstrak cuma menyentuh permukaan tanpa menjelaskan secara utuh apa saja yang dilakukan oleh penulisnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, abstrak justru bisa menyesatkan jika kita tidak berhati-hati.

Contohnya, ada satu jurnal tentang sistem rekomendasi kerja berbasis AI. Di abstraknya, jurnal ini terlihat seperti membahas konsep dan teori tentang kepercayaan dalam sistem rekomendasi. Tapi setelah dibaca secara menyeluruh, ternyata isinya sangat teknis—mereka membangun model baru, mengembangkan arsitektur sistem, dan menguji modelnya menggunakan dataset besar. Jadi, kalau kita hanya menilai dari abstraknya, kita bisa salah mengklasifikasikan artikel itu sebagai tinjauan literatur, padahal jelas-jelas itu penelitian eksperimental dan pengembangan model.

Nah, di sinilah letak bahayanya. Kalau kamu sedang menyusun kajian atau membuat sintesis dari berbagai artikel, kesalahan menilai metodologi bisa berdampak ke keseluruhan hasil. Bisa-bisa kamu menarik kesimpulan yang kurang tepat atau bahkan bias. Lebih parah lagi, kamu bisa melewatkan artikel penting hanya karena abstraknya tidak menyebutkan kata kunci yang kamu cari, padahal isi lengkapnya sangat relevan.

Jadi, apa solusinya? Mulai biasakan baca artikel sampai ke bagian metode dan hasil. Enggak harus semua bagian kamu pelototin, tapi paling nggak, pastikan kamu tahu:

  • Penulisnya ngapain aja di riset itu,

  • Teknik/metode apa yang dipakai,

  • Apakah ada eksperimen, sistem yang dibangun, atau hanya diskusi konseptual.

Kalau kamu sedang bikin SLR, ini hukumnya wajib. Nggak bisa lagi cuma ngandelin abstrak doang.

Akhir kata, abstrak itu memang penting, tapi dia bukan segalanya. Kadang, yang paling bernilai justru tersembunyi di halaman-halaman yang nggak sempat kita baca. Jadi yuk, kita mulai kebiasaan baru: baca jurnal lebih dalam, bukan cuma di permukaan.

Bahasa yang Tak Terucap, Warna yang Tak Terlihat

Ada kalanya hidup terasa seperti simfoni yang kacau. Nada-nada tidak berpadu. Suara-suara tidak menyatu.Kita bicara, tapi tidak didengar. Kita menjelaskan, tapi disalahpahami. Kita hadir, tapi tidak tersentuh.

Lalu kita menyebut mereka… idiot. Karena itu cara termudah menenangkan ego. Padahal, mereka bukan idiot. Mereka hanya berbeda.

Thomas Erikson membawa kita menembus batas ego dan menelusuri spektrum warna kepribadian manusia:

Merah yang membakar dan menggerakkan.

Kuning yang bersinar dan menghidupkan.

Hijau yang meneduhkan dan menenangkan.

Biru yang menyejukkan dan menyempurnakan.

Setiap warna adalah frekuensi. Dan komunikasi yang gagal bukan karena pesan yang tak kuat, melainkan karena nada yang tak selaras.

Buku ini bukan sekadar ilmu tentang perilaku. Ia adalah pelajaran tentang empati, tentang bagaimana kita berhenti memaksa orang berubah, dan mulai belajar menyesuaikan cara menyentuh mereka.

Seperti belajar bahasa baru—bukan lewat kata, tapi rasa. Bukan lewat suara, tapi energi.

Karena sesungguhnya, semua orang ingin dimengerti, hanya dengan cara yang berbeda.

Saat kita berhenti menyalahkan dunia karena tak paham siapa kita, dan mulai memahami bahwa dunia pun punya cara sendiri untuk berbicara, saat itulah kita tumbuh. Menjadi manusia seutuhnya.

Pemimpin Tanpa Penerus

Saya punya kenalan. Jabatannya tinggi. Keputusannya selalu didengar. Setiap masalah, dia yang selesaikan. Setiap keputusan, dia yang ambil. Setiap proyek, dia yang memimpin. “Biar cepat,” katanya. “Biar benar,” tambahnya.

Saya diam saja.

Tahun demi tahun berlalu. Timnya tetap sama. Tidak ada yang berkembang. Tidak ada yang dilatih. Tidak ada yang disiapkan. Sampai suatu hari, dia pensiun.

Perusahaan panik.

Tidak ada yang bisa menggantikannya. Timnya bingung. Banyak yang tidak siap. Keputusan-keputusan terhambat. Hasilnya? Kacau.

Saya masih diam.

Lalu saya lihat, bos barunya datang. Satu pertanyaan pertama yang dia ajukan: “Kenapa tidak ada yang siap menjadi penerus?”

Saya tersenyum.

Karena pemimpin sejati bukan hanya menyelesaikan pekerjaan. Tapi juga menyiapkan orang lain untuk bisa menggantikannya. Kalau semua tergantung pada satu orang, itu bukan kehebatan. Itu kelalaian. Dan kalau tidak mau menyiapkan penerus, maka keberhasilannya hanya bertahan selama dia ada.

Setelah itu? Hilang begitu saja.

Menang Sendiri, Kalah Bersama

Saya punya kenalan.

Cerdas. Ambisius. Cepat naik jabatan.

Tapi ada satu kebiasaannya yang aneh.

Dia tidak pernah berbagi.


Setiap ada proyek, dia kerjakan sendiri.

Setiap ada ide, dia simpan sendiri.

Setiap ada peluang, dia rebut sendiri.


“Saya harus berhasil,” katanya.


Saya diam saja.


Lama-lama, timnya menjauh.

Mereka tidak lagi berbagi ide. Tidak lagi mendukung proyeknya. Tidak lagi peduli dengan keberhasilannya.


Sampai akhirnya, ada proyek besar.

Dia ingin mengerjakan sendiri.

Tapi kali ini, dia butuh orang lain.

Masalahnya? Tidak ada yang mau membantu.


Saya masih diam.


Proyeknya gagal. Karirnya mandek.


Saya tersenyum.


Keberhasilan bukan soal seberapa cepat kita naik. Tapi seberapa banyak orang yang ikut naik bersama kita.

Menang sendiri, mungkin terlihat hebat.

Tapi kalau akhirnya sendirian, apa gunanya? 

Belanja atau Ditipu Nafsu?

Saya punya kenalan.

Setiap akhir pekan, dia ke mal.

Bukan karena butuh. Tapi karena ingin.

Tas baru. Sepatu baru. Pakaian baru.

“Diskon, lumayan,” katanya.


Saya diam saja.


Tiap bulan, paket datang bertumpuk.

Buka satu. Senyum.

Buka lagi. Senyum lagi.

Dua minggu berlalu, barangnya masih di plastik. Belum dipakai.

Lemari makin penuh. Rumah makin sesak.

Tapi rekening makin tipis.


Saya masih diam.


Sampai suatu hari, dia mengeluh.

“Gaji naik, tapi uang kok habis terus?”


Saya tersenyum.


Boros itu bukan soal berapa besar uangmu. Tapi seberapa baik kamu menggunakannya.

Banyak orang merasa "butuh", padahal hanya menuruti keinginan.

Hidup bukan soal memiliki banyak barang. Tapi memastikan yang kita miliki benar-benar bermanfaat.

Kalau terus belanja tanpa pikir panjang, kita bukan menikmati hidup. Kita hanya ditipu nafsu.

Mengalir atau Tenggelam?

Saya punya kenalan.

Hidupnya santai. Tidak pernah terlihat cemas.

"Jalani saja," katanya.

"Ikuti alurnya," tambahnya.


Saya diam saja.


Pernah suatu hari, dia ingin beli rumah.

Tapi tidak pernah menabung.

"Rezeki sudah ada jalannya," katanya.

Lima tahun berlalu. Rumahnya masih di angan-angan.


Saya masih diam.


Tahun lalu, dia ingin naik jabatan.

Tapi tidak pernah belajar hal baru.

"Kalau rezeki, nggak akan ke mana," katanya lagi.

Hasilnya? Jabatan tetap sama. Gaji tetap segitu.


Saya tersenyum.


Hidup memang mengalir. Tapi kalau hanya ikut arus, kita cuma jadi daun kering yang hanyut.

Kita harus punya tujuan. Punya rencana. Punya eksekusi.

Karena usaha yang terarah akan membawa kita lebih jauh.

Mengalir itu boleh. Tapi jangan sampai tenggelam.

Cara Lama di Dunia yang Baru

Saya punya teman.

Sudah bekerja 10 tahun di perusahaan yang sama. Rajin. Disiplin. Target selalu tercapai.

Tapi… dengan cara yang sama.

Setiap tahun, proposalnya sama. Laporannya sama. Strateginya sama.

“Yang penting target tercapai,” katanya.

Saya diam saja.


Lima tahun lalu, dia masih juara.

Tiga tahun lalu, mulai tertinggal.

Tahun ini? Sudah kalah jauh.

Kompetitor datang. Lebih cepat. Lebih canggih. Pakai teknologi terbaru.

Dia? Masih pakai cara lama.

“Kenapa nggak coba metode baru?” tanya saya.

“Sudah nyaman begini,” jawabnya.

Saya diam lagi.


Sampai akhirnya, perusahaannya goyah.

Pasar berubah. Pelanggan pindah ke yang lebih modern.

Dia mulai panik.

Tapi sudah terlambat.

Saya tersenyum.


Karena dunia berubah. Teknologi berubah. Kalau kita tetap di tempat, kita bukan sekadar tertinggal. Kita akan hilang.

Target bukan sekadar tercapai. Tapi bagaimana cara mencapainya juga harus terus berkembang.

Yang tidak berubah, akan tergilas.