Siapa Kemudian Apa dan Kembali pada Siapa

Mata kita diciptakan melihat sesuatu dan menerimanya dalam pikiran.  Namun otak yang berpikir akan mengolah lebih lanjut dan menangkap sesuatu yang tidak diperhatikan di awal. Karena mata hanya sebuah kamera, bukan sebuah alat berpikir. Sehingga melihat bisa dengan mata dan pikiran.

Saat kita berada  sebuah bangunan yang megah. Kita akan melihat struktur bangunan yang kokoh. Warna bangunan yang putih bersih. Pondasi yang kekar menopang bangunan di atasnya. Hingga kecantikan sudut sudut bangunan yang tercipta di setiap sisinya.

Ya, mata melihat.

Kemudian kita berlanjut dalam pikiran. Bangunan yang megah dengan disain yang apik dan rapih, tentu ada seorang desainer yang merencanakannya di awal. Bangunan yang kokoh, tentu ada banyak orang yang mengerjakan mulai dari pondasi hingga ke atapnya. Di balik bangunan yang kokoh, ada ratusan jenis material yang dipilih seseorang untuk memastikan kekuatannya. Semua kegiatan ini mengandung kata "orang".

Ya, mata melihat dari luar, pikiran bisa melihat yang ada di dalam.

Apakah kita mau berhenti melihat ke dalamnya? Kalau lebih jauh kita akan melihat kekuasaan Allah SWT yang lebih hebat. Allah menciptakan orang tadi. Allah menciptakan pikiran orang tadi. Allah menyiapkan semua material untuk dibuat bangunan di muka bumi ini. Semuanya kembali kepada Allah SWT - Sang Maha Pencipta - Yang Awal dan Yang Akhir.

Ya, mata melihat awal, pikiran mengurai yang terlihat, dan akhirnya iman menemukan Sang Penciptanya.

Betapa lemahnya diri kita.

Matahari bersemangat mengejar siang dengan gembira

Siapa yang hari senin merasa lelah dan malas untuk beraktifitas ? kamu? (koq tahu) Kira-kira saja.

Sekarang coba perhatikan anak yang baru masuk paud. Dia akan bersuka cita luar biasa karena hari itu dia akan bermain dengan teman temannya. Main perosotan, jungkat-jungkit. Berlarian dan tertawa sama teman temannya.

Apa bedanya kita dan anak paud tadi?

Niat!

Kita niatnya bekerja. Anak paud tadi niatnya bermain. Kita bekerja dipaksa mengorbankan waktu senang untuk ditukar dengan aktifitas yang membebani hidup untuk mendapatkan imbal berupa gaji.

Namun kata kita itu di luar saya ya.

Karena mode saya adalah bermain.

Hari ini saya mau eksplorasi apa ya? Mau mencoba apa? Apa yang bisa lebih baik? Ide baru apa yang mau kita coba? Mau dengar apa kata customer? Latihan pantun lagi? Eh di youtube lagi trend apanya? Masih lagu jawa?

Dengan mengubah pola seperti tadi. Bangun tidur langsung tahu aku ingin begini aku ingin begitu. Malas? Huh cupu. Rugi banget kalau sampai bermalas malas. Ngegas kalau kata orang sekarang. Begitu banyak yang bisa kita mainkan, kenapa mesti bermalas malas.

Dimulai dari niat yang sederhana. Yuk hari ini kita mau main apa?




Hasil yang Salah karena Masukan yang Salah

Mengapa masukan itu penting? Karena masukan menentukan hasil. Masukan yang kotor menghasil keluaran yang kotor juga. 

Tergesa-gesa adalah salah satu penyebab hasil yang diperoleh kotor. Karena terburu-buru maka masukanpun tidak diperiksa dengan baik. Dan alhasil saat memeriksa keluaran menjadi banyak tanda tanya yang "rasa"nya tidak benar.

Setelah meninjau ulang sejenak, mengapa hasilnya tidak sesuai. Proses umpan-balik pun berjalan. Aha, ternyata proses masukannya tidak sesuai. Datanya kotor. Sehingga perlu dibersihkan.

Cara membersihkannya pun bermacam-macam, kadang kita harus melakukan penambahan data untuk memastikan data yang masuk memang bersih. Kalau ingin memastikan makanannya aman dikonsumsi, periksa tanggal kadaluarsanya. Kalau ternyata hasilnya nggak enak, kan bisa tahu lebih awal kalau ternyata barangnya sudah basi karena melebih masa kadaluwarsanya.

Ini juga berlaku untuk data penelitian. Karena ingin cepat kita menjadi ceroboh dalam menyiapkan data. Tetapi itu tidak mengapa, setiap usaha hanya menyisakan kesuksesan atau pembelajaran. Kalau soal ceroboh tentu hasilnya adalah pembelajaran.

Jadi tahapan pertama adalah menanamkan pola pikir "tenang", "sabar" dalam menyiapkan data. Karena sejak dimulai teliti menjadi penting. Masukan yang salah berakibat fatal dalam menyajikan hasil.

Dunia Baru - Dunia Penuh Teliti

Apa rasanya kalau Anda memasuki sebuah area baru. Semisalkan negara baru, kantor baru, rumah baru, atau kampus baru? Ada ketakutan? Ada keasyikan mungkin?  Ada semangat baru? Apapun itu, ternyata dunia baru itu mengairahkan kita untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Kali inipun saya memasuki dunia baru, dunia penuh teliti. Di dalamnya ribuan orang meneliti apa saja. Mencoba menemukan sesuatu yang baru. Menarik? Ya sangat. Karena saya merasakan bagian dari sekelompok orang yang akhirnya mampu bercerita tentang gagasan baru.

Implikasinya adalah dunia yang dijalani sendiri. Dalam teliti meneliti ternyata kita berjalan seorang diri. Banyak orang sekitar kita yang berjalan, namun masing masing memiliki alurnya sendiri sendiri. Sepi ya. Asyik iya. Bahkan ketawa sendiri iya. Dan mangut-mangut sendiri juga iya.

Semangat untuk membuka mata seluas-luasnya adalah modal utama. Jadi ingat praktek baby eyes. Seorang bayi membuka matanya selebar-lebarnya menangkap semua benda yang ada di sekitarnya. Warna warni, bentuk bentuk baru, ras hingga bau menjadi sumber masukan bagi indera yang tersebar di seluruh tubuh. Sehingga otakpun yang dikosongkan menjadi riuh dengan masukan baru. Ramai di dalam. Bergelimah kekayaan rasa.

Akhirnya kita bisa menjadi seorang yang paham sedikit demi sedikit setelah tahu di dalamnya. Proses belajar masih berjalan. Langkah baru saja dimulai. Semangat untuk berjuang. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.

Tulis Dulu baru Eksekusi atau Eksekusi Dulu baru Ditulis

Rencanakan dahulu, eksekusi kemudian. Sekilas prinsip ini sudah sangat sering didengar atau dibaca. Sayangnya dapat praktek keseharian, lebih banyak eksekusi baru dituliskan atau bahkan lupa dicatat. Jadi agak merepotkan memang kalau kita ingin buru-buru tetapi repot dengan segala pernak pernik tulis menulis. Lalu baiknya bagaimana?

orang berdiskusi


Kalau soal rencana merencanakan, saya sering kali teringat pada salah satu buku kegemaran saya yaitu 7 habits of highly effective people - Stephen Covey. Kenapa demikian? Karena pak covey ini bisa merangkai dalam sebuah kerangka yang menarik. Rencana adalah penciptaan pertama, dan eksekusi adalah penciptaan kedua.

Dalam bukunya, sebuah rencana itu adalah sebuah eksekusi sebuah gagasan yang ada. Ingin melakukan pengujian perangkat. Sebelum benar benar perangkat itu ada, kemudian dilakukan pemeriksaan dan lain lain. Kita bisa merencanakan bagaimana pengujian ini dilakukan.Kita bisa buat langkah demi langkah pemeriksaan dalam bentuk tertulis. 

Lalu apa sih keuntungannya dengan membuat sebuah rencana? Pertama kita memiliki referensi dalam melakukan eksekusi, sehingga waktu eksekusi tidak bingung apa yang harus dikerjakan. 

Kedua terhindar dari sesuatu yang terlupa, contoh mau masak kue pertama kali dan tidak tidak memiliki referensi bahan yang digunakan. Setelah kue selesai baru ketahuan kalau rasanya kurang manis. Ya karena tidak memiliki catatan rencana kalau gulanya harus 2 sendok makan. 

Ketiga mempercepat proses, tentu saja. Karena sudah jelas rencananya, sudah dipersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan, tahu langkah langkahnya, tahu mana saja yang harus dicatat maka semuanya jadi cepat. Bahkan laporannya pun bisa seketika selesai karena sudah dipersiapkan fomulirnya laporan hanya tinggal mengisi angkanya. 

Keempat menghindari resiko kegagalan atau kesalahan. Kalau semuanya sudah tertulis, tentu kita menjadi lebih siap. Sehingga gagal karena terlupa, salah ukuran, tidak tercatat, atau salah langkah dalam proses pengerjaan bisa diminimalisasi. Kalaupun terjadi semata karena kesalahan eksekusi bukan kesalahan perencanaan.

Sekarang dengan sedemikian banyak manfaat yang ada saat kita melakukan perencanaan. Kira-kira sekarang apa yang akan kita pilih? Tulis dulu rencananya baru eksekusi atau eksekusi dulu baru ditulis?

Selamat merencanakan hidup kita!

Latihan karaoke di akhir pekan
Biar menyanyi  semakin mahir
Bila semua hal direncanakan
Hidup senang damai di akhir

Bagaimana Eksekusi dari Alih Teknologi

Saat ini teknologi baru hadir dalam hitungan hari. Dan sedang ramai dengan chatGPT. Imbasnya berita berita yang potensi tidak berhubungan langsung terkait dengan pengurangan karyawan. Kali ini kita akan menyimpan konsep eksekusi alih teknologi yang strategis.

Ceritanya Indonesia pernah merencanakan pembelian kapal laut. Kerangkanya adalah bagaimana kita bisa belajar tentang pengembangan industrinya. 

Jadi dalam perjanjian pembelian kapal ini. Pertama kapal dibuat sepenuhnya di negara asal. Setelah jadi kapal perdana ini dikirim ke Indonesia. Para engineer kita bisa mempelajari kapal yang sudah jadi.

Untuk pembuatan kapal kedua, para engineer Indonesia dikirim ke negara tujuan, Mereka bersama engineer negara asal melakukan pembuatan kapan bersama sama. Setelah kapan kedua selesai, kapal dikirim ke Indonesia.

Selanjutnya, kapal ketiga dibangun di Indonesia. Kapal dibangun masih bekerjasama dengan para engineer negara asal. Tentunya engineer indonesia lebih banyak yang terlibat dari yang sebelumnya. Sehingga mulai kapasitas teknologi dikuasai.

Tahapan ke-empat, kapal sepenuhnya dibuat di Indonesia. Dibangun oleh 100% engineer Indonesia. Sekarang kapabilitas itu dikuasai oleh bangsa Indonesia. Sebuah langkah untuk setahap lebih maju.

Belajar dari adopsi teknologi ini, sebuah teknologi bukan mengurangi karyawan yang ada. Sebaliknya teknologi membuka peluang baru, melibatkan orang lebih banyak. Dan alih-alih efisiensi untuk menujukan performansi sesaat, kapabilitas masa depan menghilang. Semua serba matang, sehingga lupa menyiapkan talent masa depan yang melanjutkan kematang para pekerja saat ini.


Mengulik ruang lingkup sistem informasi melalui analisis judul jurnal

Apa bidang sistem informasi ini? Sering kali kita terjebak dalam definisi definisi subjektif terhadap pengertian sistem informasi ini. Apalagi kalau sudah mulai melebar ke bidang sejenis seperti ilmu komputer, informatika, teknologi informasi, dan bidang lainnya.

Sebenarnya kita bisa mengutip ruang lingkup sistem informasi berdasarkan sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Aptikom dalam Buku Pengembangan Kurikulum KKNI Berdasarkan OBE. Di dalamnya dijelaskan kompetensi tentang masing masing bidang seperti teknik komputer, ilmu komputer, sistem informasi, teknologi informasi, rekayasa perangkat lunak dan komputer akuntasi.

Kalau merujuk pengertian di dalam buku tadi, Sistem Informasi mempelajari berbagai aspek mencakup perencanaan, perancangan, pembangunan, operasional, dan evaluasi Sistem Informasi. Sehingga para para profesional dapat memahami faktor-faktor orang, proses bisnis dan teknologi dari suatu organisasi, dan harus dapat membantu organisasi tersebut untuk menentukan bagaimana informasi dan proses bisnis yang didukung oleh teknologi dapat menjadi landasan untuk unjuk kinerja yang tinggi dari organisasi tersebut.

Sekarang, bagaimana kalau kita menguji ruang lingkup dari jurnal sistem informasi bisnis yang dikelola oleh MSI UNDIP. Caranya sederhana saja, yaitu dengan membuat cloud world berdasarkan judul jurnal yang ada.

Dengan mengambil semua judul artikel tahun 2000 - 2002, diperoleh gambar sebagai berikut,

Terlihat beberapa kunci, seperti

Proses
Analisis, Prediksi, Penerapan/Implementasi, dan Evaluasi

Sistem Informasi

Bidang
Metode, Teknologi, Algoritma

Bagi
Pengguna, Manajemen

Jadi mengacu pada referensi buku tadi, maka kita bisa lihat bahwa ruang lingkup jurnal ini sudah sesuai dengan definisi yang sudah dijelaskan dalam referensi tadi.

Cara Menyimpan Artike Google Scholar ke Zotero

Saat mengunakan zotero, kita pertama pastinya akan menyimpan referensi jurnal jurnal yang kita temukan. Mau tahu caranya menyimpan artikel yang ditemukan di google scholar ke zotero? 

Ternyata caranya sederhana banget.

Saat kamu sudah menginstall zotero, biasanya di browser kamu biasanya sudah terpasang zotero connector pulgin / addons sebagai app tambahan untuk menyambungkan data di tiap artikel ke aplikasi zetoro.

Nah kalau software addons atau chrome extension dari zotero connector ini sudah terpasang, caranya mudah banget.

Sekarang kamu cukup ke google scholar. Ketikan kata kunci yang akan kamu cari. Setelah daftar artikelnya keluar, kamu tinggal pilih tombol "kutip". Nah ada beberapa pilihan di bagian bawah. Klik refman dan otomatis meta data artikel secara lengkap.

Apalagi kalau kamu download juga file artikelnya. jadi kapan saja butuh, tinggal buka zetoro dan kamu bisa segera baca baca offline.

Silahkan komentar ya dibawah sini.

Cara mencari referensi jurnal state of art kuliah

Salah satu yang menjadi tantangan dalam melakukan riset adalah analisis situasi atau situation analysis. Sudah sejauh mana perkembangan bidang yang akan kita riset. Karena alih-alih mendapatkan dokumen yang memberikan gambaran terkini tentang sebuah subyek tertentu, malah dapat sepenggalan informasi.

Penggalan informasi ini yang berpotensi menjebak untuk merajut informasi lain yang terserak dalam banyak dokumen jurnal lainnya. Selain potensi pegel ngumpulin satu satu, juga potensi menghabiskan banyak waktu, kecuali memang risetnya tentang membuat sebuah gambar puzzle lengkap.

Kita lanjutkan diskusinya.

Jadi awalnya itu saat teman sharing sebuah document tentang perkembangan di bidang explainabled artificial intelligence. Di sini kita dapat dengan cepat mendapatkan gambaran besar tentang penelitian di bidang ini. Luas dan lengkap adalah cirinya.

Beranjak dari sana, saya mencoba mencari jurnal serupa untuk bidang yang lain. Dimulai dengan mengetikan satu keyword di google scholar. Ternyata kerepotan, search engine-nya menghasilkan begitu banyak dokumen dan akhirnya masuk jebakan satu artikel, dan baru sadar bahwa itu bukan yang diinginkan.

Coba kombinasi keyword ditambah keyword seperti trend, taxonomy,  sekali lagi, kita masuk jebakan penggalan informasi.

Sampai akhirnya saya melihat kalau sebuah dokumen yang luas itu biasanya dipakai oleh banyak orang. Karena sudah memberikan dasar referensi yang baik bagi orang banya. Dan itulah kuncinya, cari yang banyak dikutip oleh jurnal lain.

Dengan akses scorpus, akhirnya saya bisa mengetikan keyword dan diurut berdasarkan jumlah orang yang mengutip terbanyak (highest cited by). Setelah itu saya batasi juga dengan rentang waktu yang update, semisalkan 4-5 tahun kebelakang.

Setelah itu semuanya menjadi mudah. Cukup membaca dari daftar artikel yang ada. Dan periksa judul dan isi agar sesuai dengan apa yang kita cari.

Selamat riset jurnal!

Cara Mengelola Artikel Jurnal dengan Zetoro

Mau tahu cara mengelola artikel jurnal dengan zeroto?

Kita simak aja ya caranya. Jadi ceritanya nih, saya lagi mau mulai riset. Nah ternyata salah satu cara memulainya adalah dengan membaca jurnal. Ya membaca jurnal, biar kita tahu situasi terkini tentang perkembangan sebuah ilmu atau dapat dikatakan state of art nya. Kira kira begitulah.

Dan ternyata membaca itu akan sangat membingungkan kalau dokumennya terlalu banyak seperti halnya kalau kita mencari google scholar. Al hasil, search, read, dan akhirnya confuse kan. Bingung sendiri.

Saat seperti ini akhirnya kita sadar. Kalau kita harus mengelola pencarian kita secara tersetruktur. Kenapa? Biar mudah dikelola. Sesuatu yang dikelola dengan baik, akan memberikan manfaat banyak seperti efisiensi pencarian misalkan. 

Pertama kita harus mengingat sedemikian banyak dokumen. Tersimpan di file dokumen akan susah dalam mencari. Dan kalau indeks dokumennya tersimpan, kita repot lagi mencari file terkait.

Nah, kalau sudah seperti ini. Kita harus cari solusi. Salah satunya adalah dengan menggunakan tool yang tepat.

Pilihannya adalah Zetoro.  Aplikasi ini adalah aplikasi pengelola dokumen yang dapat terhubung sama google scholar. Sehingga dapat langsung tersimpan. Kedua referensinya dapat dikelompokkan berdasarkan kategori yang kita butuhkan.

Nah untuk mendownloadnya cukup mendownload di https://www.zotero.org/ . Download, dan Install. Selesai.

Ketidaktahuan Awal Perseteruan - Bagaimana menanganinya

Tentu Anda sepakat kalau setiap kejadian itu ada ibrah tersendiri. 

Sudah pernah dengar cerita tentang tahu goreng dan cabai. Jadi ada seseorang yang membeli tahu goreng dan dapat bonus cabai. Karena ingin segera menikmatinya, cabai digigit terlebih dahulu. Baru kemudian baru makan tahu gorengnya. Sayangnya seseorang melintas dan menyenggol tangan orang ini. Terjatuhlah tahu goreng tadi. Belum beruntung. 

Lalu ibrahnya apa ya? Mungkin ke depan, makan dulu tahu gorengnya, baru digigit cabainya. Untuk menjaga resiko seandainya tahu goreng tadi terjatuh.

Tidak tahu adalah sebuah keadaan. Menjadi tahu adalah sebuah keadaan selanjutnya. Tidak tahu cara naik MRT, setelah mencoba akhirnya tahu. Tidak tahu cara naik pesawat, setelah mencoba akhirnya tahu.

Dunia berkembang sedemikian cepat saat ini.  Beragam layanan, cara menjual, dan promosi bertebaran dengan segala macam bentuknya. Sehingga sebagian masyarakat dari tahu menjadi tidak tahu. Bahkan yang kemarin tahu, hari ini tidak tahu karena sedemikian cepatnya. 

Coba bayangkan, hari ini gratis biaya administasi, sehingga harga jual adalah harga yang tertera di display. Besoknya ada biaya administasi, tiba tiba ada biaya 2.500 rupiah untuk setiap pembelian. Bayangkan pelanggan yang tidak teredukasi kalau ada perubahan ini. Serta merta meraka akan bilang, koq mahal. Mau cari untung koq caranya begitu, naikin harga suka sukanya. Dan sederetan ketidakpuasan karena ketidaktahuan kebijakan baru terhadap biaya administasi. Ya, karena tidak tahu.

Cerita serupa juga terjadi saat tukar kursi pesawat kemudian terjadi pertengkaran antar penumpang. Lebih menarik lagi. Kalau tadi antara perusahaan dan pembeli, sekarang antar pembeli. Berawal dari adanya inovasi biaya tambahan untuk sebuah kenyamanan, caranya dengan menjual posisi kursi dengan sebuah harga tambahan. Sehingga pembeli bisa bebas memilih posisi duduk sesuai keinginanya. Bisa di kursi bagian depan, bisa di kursi dekat jendela, bisa di tengah kursi emergency sebagai lokasi lokasi dengan biaya tambahan.

Bila dirunut, saat perseteruan antar penumpang soal tukar menukar posisi duduk jendela karena ketidaktahuan soal biaya tambahan ini. Penyebabnya tadi, kecepatan perubahan layanan membuat sebagian orang tidak tahu kalau sudah berubah business model. Untuk sebuah kenyamanan, anda diminta biaya lebih, termasuk posisi duduk jendela.

Membayangkan seandainya penumpang yang meminta tukar kursi tadi mengetahui adanya business model baru ini, tentu dia tidak akan memaksa tukar menukar kursi. Dia sadar kalau kalau orang yang memiliki kursi ini memang membayar lebih untuk sebuah kenyamanan. Seperti halnya penumpang  kelas ekonomi melihat kursi business class.

Sehingga cara terbaik untuk meredakan  amarah orang yang bersikeras tidak pada tempatnya karena tidak tahu adalah dengan memberi tahu. Dijelaskan kalau ini adalah cara baru, layanan baru, business model baru. Sehingga mereka jadi tahu kalau ada perubahan.

Bagaimana kalau anda tidak berhasil meyakinkan orang ini kalau ini adalah hal baru. Gunakan orang lain yang memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi. Misalkan petugas berseragam, bisa pramugrasi, polisi, satpam, petugas loket, atau pihak lain yang sepakat dipercaya.

Jadi cegah perseteruan dengan memberitahu. Mari kita buat orang tidak tahu menjadi tahu. 


Inspirasi Cerita
https://travel.detik.com/travel-news/d-6554327/tak-mau-tukar-kursi-wanita-ini-dimaki-emak-emak-sepanjang-penerbangan?bytedance=true

Teknik - Reframing