Cara Lama di Dunia yang Baru

Saya punya teman.

Sudah bekerja 10 tahun di perusahaan yang sama. Rajin. Disiplin. Target selalu tercapai.

Tapi… dengan cara yang sama.

Setiap tahun, proposalnya sama. Laporannya sama. Strateginya sama.

“Yang penting target tercapai,” katanya.

Saya diam saja.


Lima tahun lalu, dia masih juara.

Tiga tahun lalu, mulai tertinggal.

Tahun ini? Sudah kalah jauh.

Kompetitor datang. Lebih cepat. Lebih canggih. Pakai teknologi terbaru.

Dia? Masih pakai cara lama.

“Kenapa nggak coba metode baru?” tanya saya.

“Sudah nyaman begini,” jawabnya.

Saya diam lagi.


Sampai akhirnya, perusahaannya goyah.

Pasar berubah. Pelanggan pindah ke yang lebih modern.

Dia mulai panik.

Tapi sudah terlambat.

Saya tersenyum.


Karena dunia berubah. Teknologi berubah. Kalau kita tetap di tempat, kita bukan sekadar tertinggal. Kita akan hilang.

Target bukan sekadar tercapai. Tapi bagaimana cara mencapainya juga harus terus berkembang.

Yang tidak berubah, akan tergilas.

Kerja atau Liburan?

 Saya punya teman.

Jabatannya lumayan. Mobilnya bagus. Laptopnya canggih.

Setiap hari dia datang ke kantor. Duduk di meja. Nyalakan laptop.

Lalu mulai buka YouTube. Scroll TikTok. Booking tiket pesawat.

“Kerja sambil santai,” katanya.


Siang, dia rapat. Tapi di café.

Sore, dia zoom meeting. Tapi di pinggir kolam renang.

“Biar enjoy,” katanya.

Saya diam saja.


Sampai suatu hari, ada klien datang ke kantor.

Mencari dia.

Dia tidak ada.

“Lagi di luar,” kata stafnya.

“Urusan kerja?” tanya klien.

Stafnya diam. Saya juga diam.


Tapi saya tahu jawabannya.


Dia memang kerja. Tapi setengah hati.

Laporan lambat. Tugas terbengkalai. Timnya bingung.

Dari luar, dia terlihat sibuk. Dari dalam, dia terlihat… tidak profesional.

Saya tersenyum.


Karena pekerjaan dan kesenangan itu bisa seimbang, tapi tidak boleh bercampur.

Kalau kerja sambil liburan, hasilnya pasti setengah-setengah.

Dan citra perusahaan? Jadi bahan tertawaan.

Sibuk? Atau Cuma Kelihatan Sibuk?

Saya punya teman.

Setiap hari dia sibuk.

Pagi rapat. Siang meeting. Sore diskusi. Malam laporan.

Jalan cepat. Nada bicara tinggi. Wajah serius.


Kalau dilihat, seperti orang paling penting di kantor.

Sampai suatu hari, bosnya bertanya.

“Targetmu mana?”

Dia bingung. Lalu membuka laptop. Mencari file. Membolak-balik catatan.


Lima menit berlalu.

Tidak ada jawaban.

Bosnya diam. Saya juga diam.


Tapi di kepala saya, saya sudah tahu jawabannya:

Dia sibuk. Tapi tidak produktif.

Mondar-mandir sana-sini. Tapi tidak ada hasil nyata.

Seakan-akan kerja keras. Padahal cuma muter-muter di tempat.


Saya jadi ingat hamster di roda. Berlari sekencang mungkin. Tapi tetap di kandang.

Saya tersenyum.


Karena produktif itu bukan soal banyaknya gerakan. Tapi tentang hasil yang dicapai.

Seorang Manajer, Bukan Sekadar Pekerja

Saya pernah punya bos.

Cerdas. Cepat. Visioner.

Kerjanya luar biasa. Keputusan selalu tepat. Eksekusi selalu cepat. Tidak pernah ada masalah yang tidak bisa dia selesaikan.


Tapi ada satu masalah yang tidak pernah dia sadari.

Timnya mandek.

Setiap ada masalah, dia yang turun tangan.

Setiap ada keputusan, dia yang ambil.

Setiap ada proyek, dia yang maju.

Timnya? Hanya penonton.

Saya pernah bertanya, “Kenapa semua dikerjakan sendiri?”

Dia jawab, “Biar cepat.”

Saya diam saja.


Lima tahun berlalu. Dia naik jabatan.

Lalu terjadi kekacauan.

Timnya tidak tahu cara mengambil keputusan. Tidak ada yang berani eksekusi tanpa dia. Tidak ada yang bisa meneruskan caranya bekerja.

Hasilnya? Perusahaan yang tadinya lari cepat, tiba-tiba tersendat.

Saya tersenyum.


Menjadi manajer bukan soal seberapa hebat kamu bekerja.

Tapi seberapa hebat kamu menumbuhkan timmu.

Jika kamu pergi, apa yang kamu tinggalkan?

Tim yang siap berlari?

Atau hanya segerombolan penonton yang menunggu ‘pahlawan’ baru?


Saya memilih yang pertama.