Target Itu yang Penting, Bukan Caranya

Saya pernah punya teman.

Orangnya disiplin. Terlalu disiplin.

Setiap pagi, jam enam tepat, dia lari keliling kompleks. Lima kilometer. Tidak boleh kurang. Tidak boleh lebih.

Sampai suatu hari, hujan deras.

Saya lihat dia tetap lari. Pakai jas hujan. Sepatunya basah.

“Kenapa nggak lari di treadmill saja?” tanya saya.

“Tidak sama,” katanya.

Esoknya, dia sakit.

Saya diam saja.


Tahun lalu, dia mengelola proyek besar. Targetnya jelas: 1.000 unit harus selesai dalam 6 bulan.

Tapi dia hanya mau pakai satu cara. Sesuai SOP.

Ketika bahan telat datang, dia tetap menunggu.

Ketika tenaga kerja kurang, dia tetap memakai sistem lama.

Tidak fleksibel. Tidak kreatif.

Hasilnya? Proyek gagal. Target meleset.

Saya diam saja.


Sampai akhirnya bosnya turun tangan.

Solusinya? Gampang.

Material bisa dialihkan dari cabang lain. Tenaga kerja bisa ambil dari proyek lain.

Hasilnya? Target tetap tercapai.

Saya tersenyum.


Kadang, jalan lurus memang baik. Tapi kalau ada batu besar di depan, lebih baik cari jalan lain.

Bukan masalah caranya. Yang penting: target tercapai.

Tahunya baru itu

Bayangkan kita berada di situasi di mana kita mengharapkan sebuah hasil yang sudah kita prediksi sebelumnya. Misalkan kita berharap bisa ke kantor tanpa harus kena macet. Atau kita berharap meminta bantuan pada seseorang dan orang tersebut mau melakukan apa ya kita harapkan. 

Atau bisa juga kita meminta seseorang untuk melakukan sesuatu namun yang dihasilkan belum sesuai dengan harapan dari kita. 

Tentu saja sebagai konsekuensinya kita bisa merasa kecewa atas hasil yang ada. 

hal ini adalah hal yang normal atau wajar karena setiap orang pasti memiliki ekspektasi. 

Di sisi lain kita perlu berpikir lebih bijak bahwa apa yang kita harapkan bisa saja belum dipahami oleh yang melakukan. 

Misalkan kita ingin cepat, pertanyaannya adalah cepat apa? Apakah 1 menit, 5 menit, 30 menit, satu jam, bahkan bisa satu hari. atau kita bisa menggunakan kata kualitatif lain seperti Bagus, indah, terstruktur, yang cenderung sangat subjektif dasarkan pemahaman kita. 

Di sisi lain kita bisa menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah apa yang dia pahami atas permintaan kepada mereka. Sehingga dapat dikatakan tahunya baru seperti itu. 

Sehingga tidak salah kalau apa yang dihasilkan juga seperti yang mereka tahu. 

Nah di sinilah butuh kehadiran seorang guru dari diri kita untuk memberitahu dengan cara terbaik sehingga orang tersebut menjadi tahu harapan dari apa yang mereka kerjakan. 

Seorang guru tidak akan marah tidak akan sedih tidak akan bosan untuk mengajari sehingga yang diajarkan paham dan mampu melakukan seperti yang diharapkan. 

Sisi lain mungkin bisa saja menjadi lahan intropeksi apakah kita sudah menyampaikan sebuah permintaan secara terukur yang dipahami oleh orang lain bisa diukur dan dipahami secara langsung. Misalkan kita ingin agar hasil pekerjaan disampaikan misalkan pada pukul 04.00 sore.

Baru Sekedar Informasi

Apa sih perbedaannya antara berkomunikasi dan menginformasikan atau mengumumkan? Pertanyaan ini cukup menggelitik karena seringkali ditemui definisi keduanya tertukar satu sama lain. 

Mungkin sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana seseorang itu menggunakan definisi komunikasi pada dirinya. Kita bisa mulai dengan bertanya sederhana tentang misalkan sebuah tugas untuk melakukan kerjasama dengan orang lain. 

Ada dua potensi jawaban yang mungkin bisa kita terima. Jawaban pertama adalah orang itu akan menyampaikan bahwa dia sudah memberitahu ajakan untuk melakukan kerjasama dengan pihak yang dituju.

Jawaban kedua bisa saja berupa konfirmasi bahwa pihak yang dituju sepakat untuk melakukan kerjasama. 

Kalau perhatikan dua jawaban ini mana yang disebut dengan menginformasikan dan mana yang disebut dengan berkomunikasi.

Kalau belum, ini adalah sebuah definisi yang terbaru yang saya pahami "komunikasi adalah sebuah bentuk penyampaian informasi yang merubah perilaku atau pemikiran orang yang dituju". 

Sehingga jawaban kedua bisa dikatakan sebagai bentuk komunikasi yaitu pihak yang dituju bersepakat untuk bekerja sama, sedangkan jawaban pertama lebih cenderung disebut dengan menginformasikan karena tingkatan interaksinya baru saja pada level penyampaian informasi belum pada perubahan pemikiran atau tindakan yang diharapkan. 

Dari sini kita bisa menarik insight, kalau kadang kita terjebak dalam sebuah definisi yang menurut kita. Menurut kita kalau kita sudah menyampaikan informasi maka kita sudah berkomunikasi padahal berkomunikasi diharapkan adanya perubahan pada diri orang yang dituju. 

Bagaimana? apakah saya berhasil untuk merubah pemikiran Anda untuk memahami perbedaan definisi komunikasi dan informasi sekarang? Kalau iya berarti saya sudah sukses melakukan komunikasi dengan anda.