Mau Tahu Empat Penyusun Sistem Kesehatan Kita, Mari Simak


Kesehatan kita ditopang oleh kebiasaan kita. Apa saja yang membuat kita sehat? Makan jelas, olah raga jelas. Apa lagi yang lain? Mari disimak.

Makanan

Dari sisi makanan kita mengenal ada 4 jenis makanan yang penting bagi tubuh kita. pertama adalah air kemudian ada karbon protein dan lemak. Keempat jenis makanan ini dalam keseharian bisa berubah namanya menjadi makanan yang kita kenal entah itu pecel lele nasi goreng stik atau sebatas kerupuk. namun tubuh kita memiliki bahasanya sendiri mereka tidak peduli dengan nama-nama yang kita berikan pada pesanan makanan yang kita asup setiap hari. Mereka hanya memandang 4 jenis makanan ini yang masuk ke dalam tubuh.  Selanjutnya tubuh melakukan proses terhadap makanan tadi sesuai dengan jenisnya.

Kalau kita perhatikan kita bisa melihat bahwa sekali makan kita mungkin akan memiliki empat jenis makanan tadi dalam satu waktu. Ada karbonya ada proteinnya ada lemaknya dan diselingi oleh minuman air. Pertanyaan sekarang adalah Apakah kita tahu manfaat dari setiap jenis makanan ini dan bagaimana tubuh memprosesnya?

Kedua yang perlu diperhatikan tentang makanan adalah tentang pola makan kita titik Apakah kita makan satu kali sehari tiga kali sehari 5 kali sehari karena termasuk dengan snack.  pola makanan ini juga berpengaruh pada tubuh kita seperti yang ketahui insulin akan bekerja tatkala karbo masuk dan akan menekan kadar gula supaya kembali angka normal di bawah seratus.

Bergerak

Komponen kedua adalah bergerak.  sebagai makhluk hidup kita sehari-hari pasti bergerak sesederhana bangun tidur menuju kamar mandi sampai yang begitu Komplek untuk mengikuti Marathon sejauh 42 km.  bergerak juga tidak diartikan semena-mena hanya berpindah kita tidur juga termasuk dalam hitungan berat karena saat tidur kita juga mengeluarkan energi. Karena otak kita tidak pernah berhenti untuk berpikir Dan itu membutuhkan energi.

Pertanyaannya adalah bagaimana keseharian kita dalam bergerak Apakah kita termasuk orang yang bekerja keras seperti mungkin atlet atau pekerja lapangan yang harus naik turun gedung titik atau kita termasuk orang-orang yang sangat sedikit untuk bergerak ke kantor naik go-jek naik mobil pribadi sampai kantor naik lift duduk seharian bergerak sebentar ke kantin untuk aksi ya kemudian kembali pulang dengan duduk di bus di kereta api.  itu semua menunjukkan aktifitas kita untuk bergerak.

Dan ini juga berpengaruh pada kesehatan kita.  kurang bergerak memberikan pengaruh pada tubuh.  kelebihan gerak juga bisa menyebabkan depresi pada tubuh. 

Tidur

Lalu apalagi dua komponen yang lain yang penting.  ternyata yang ketiga adalah tidur.  tidur adalah waktu di mana tubuh kita beristirahat yang dimulai saat kita memejamkan mata hingga terbangun kembali.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah Jam berapa kita tidur dan Berapa lama kita tidur?  Kemudian Apakah dalam tidur itu kita sering terbangun ada pula seperti bayi? 

Emosi

Terakhir adalah hal yang penting tentang emosi.  kesehatan emosi kita menjadi sangat penting.  dalam sehari banyak ragam pola yang kita temui ada rasa bahagia ada rasa sedih ada rasa tergesa-gesa ada rasa rileks dan itu semua membentuk  kesehatan emosi  pada diri kita.  Menarik yang perlu kita ketahui ternyata hormon yang baik untuk di tubuh kita bekerja pada saat kita rileks.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengolah emosi kita sehari-hari mulai pagi hingga kita tertidur. 


Dari penjelasan ini kita belajar bahwa ada empat komponen penting dalam menyusun kesehatan di diri kita titik pertama adalah makanan kedua adalah bergerak ketiga adalah tidur dan terakhir adalah kesehatan emosi.  pertanyaannya adalah seberapa sadar kita memperhatikan empat komponen ini? Kemudian apakah kita seimbang  dalam aktivitas kita sehari-hari sehingga syarat-syarat untuk menjadi sehat pada 4 komponen ini terjaga.

Semoga bermanfaat! 

Kenapa Kuningan Arah Semanggi Selalu Macet

Setiap hari para pengguna kendaraan pribadi atau umum, baik motor maupun mobil serta bus mengalami masalah ini kemacetan di kuningan jakarta menuju arah semanggi. 

Sebagai gambaran di daerah kuningan ada tiga tujuan yaitu pertama berbelok ke arah area perkantoran dan bisnis di kuningan. Kedua adalah melanjutkan tujuan kearah semanggi. Dan ketiga adalah berbelok ke arah kiri menuju mampang. Ada lagi tujuan sebelum berbelok dari busway yang harus berhenti di halte tegal parang, yang membuat semakin riuh.

Kalau ditarik lebih ke belakang dari asal tujuan, kita bisa mengamati ada beberapa sumber traffic. Pertama dari arus normal untuk kendaraan yang berasal dari pancoran dimana motor, busway dan kendaraan pribadi yang non tol menuju arah kuningan. Kedua adalah sumber traffik dari arah mampang dari Blok M. dan ketiga adalah traffik keluaran jalan tol pancoran.

Menariknya dari keadaan ini kita belajar apa sih macet?

Macet ternyata adalah benturan kepentingan untuk pemanfaatan resource yang terbatas. Bisa dilihat dari 3 sumber traffic, akan ada 4 tujuan yang akan dicapai dengan satu sumber daya yaitu satu jalan raya.

Kedua bisa kita amati jenis jenis pihak yang bekepentingan di kelompokkan dalam jenis kendaraan, dan tujuan kendaraan serta asal kendaraan. Ini saja sudah membentuk sekitar belasan jenis kelompok traffik. Setiap kelompok traffik ini memiliki volume dan ukurannya masing masing.

Sebenarnya di waktu tertentu sudah ada polisi yang berjaga. Biasanya mereka mengatur traffic yang berasal dari jalan tol dan yang jalur biasa. Secara bergantian traffik dialirkan berdasarkan durasi waktu tertentu. Hal ini cukup membantu. Artinya adanya aturan yang ditegakkan itu mampu mengurai masalah sementara. Karena tatkala petugas dan aturannya tidak ada, kembali macet hadir.

Kita juga bisa belajar tentang kepatuhan terhadap aturan. Semisalkan jalur bawah untuk berbelok ke pancoran itu hanya cukup 2 kendaraan, tetapi tetap saja ada sebagian kendaraan menolak aturan dan membentuk tiga jalur yang berakibat kepada kemacetan karena sebagian jalur tertutup untuk kendaraan yang menuju tanjakan ke arah semanggi.

Kalau kita perhatikan lagi sebenarnya tidak perlu terjebak dalam fenomena yang ada yaitu macet. Pengendara yang maksa untuk jalur baru. 

Kita bisa mencari akar masalahnya.

Misalkan dengan empati kita bisa melihat mengapa banyak kendaraan berbelok ke arah kuningan? Karena area perkantoran dan bisnis ada di sana.

Kenapa orang masih menggunakan kendaraan pribadi? Karena kurangnya akses transportasi umum yang memadai untuk sampai ke kantor tadi secara nyaman.

Ketiga kenapa orang memilih jalur itu saja? Karena memang tidak ada jalur lain yang bisa membantu pengendara kendaraaan ke tempat yang dituju.

Mengapa issue issue yang dihasilkan dari empati ini tidak terakomodasi dalam solusi?

Bisa jadi karena proses designnya yang belum baik. Bagaimana mendesign pengaturan traffik kendaraan yang memadai. Atau belum ada unit yang perhatian khusus terhadap masalah ini? Bisa jadi. 

Kembali ke unit atau orangnya. Apakah orangnya ada? Apakah orangnya tahu tugasnya? Apakah  orangnya mampu? Apakah orangnya mau? 

Sepertinya kembali ke pertanyaan mendasar ya. First Who then What, seperti inti dari buku Good to Great buah karya James C Colin  

Root Cause problem solving Menyelesaikan masalah mendasar


Ada dua tingkatan cara menyelesaikan masalah. Pertama adalah menyelesaikan symptom atau fenomena yang terlihat. Kedua adalah menyelesaikan penyebab terjadinya masalah.

Sebagai contoh tatkala seorang anak mengalami demam. Kita bisa memberikannya aspirin untuk menurunkan panas. Atau kita bisa menanyakan Apa masalah yang dihadapi sebagai contoh habis Dimarahi guru atau terjatuh.

Contoh lain adalah tatkala sebuah keluarga tidak memiliki persediaan makanan. Maka kita bisa memberikan persediaan makanan bagi keluarga tersebut. Atau kita bisa mencari tahu mengapa sang ayah tidak memiliki pekerjaan dan mencarikan solusi Bagaimana sang ayah bisa bekerja sehingga dia memiliki uang untuk membeli persediaan makanan.

Inilah yang disebut cara penyelesaian level kedua di mana kita tidak terjebak dalam sistem-sistem yang harus dan penting diselesaikan tetapi kita juga mencari solusi untuk hal-hal yang menyebabkan masalah itu terjadi.

Dalam buku outlive Doctor Atalia menyajikan sebuah pemikiran di mana cara berpikir untuk menyembuhkan pasien yang sakit lebih dominan dibandingkan menjaga dan mencegah seorang yang sehat dari sakit.

Kebanyakan kita menyadari pentingnya kesehatan tatkala kita sudah sakit. Kita terjebak untuk menunggu sampai sebuah masalah terjadi dan mencari solusinya dibandingkan kita mengidentifikasi potensi terjadinya masalah atau sakit dan melakukan pencegahan dini.

Menyerupai buku Stephen covey yang berjudul First thing first yang menyajikan sebuah peta einshenhower yang berisi strategi untuk menghadapi situasi dalam tingkat penting dan mendesak.

Dalam peta tersebut kita bisa membedakan sebuah Hal itu merupakan hal yang penting atau tidak Dan membedakan hal itu dari tingkat sangat urgent atau tidak.

Sehingga strategi untuk masalah yang urgent dan penting maka tindakannya adalah segera menyelesaikannya agar potensi risiko tidak lebih besar.

Strategi kedua adalah untuk memprioritaskan ke level yang paling rendah untuk kegiatan yang tidak penting.

Dan hal yang menarik adalah untuk hal yang penting tetapi tidak urgent adalah hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebagai contoh berolahraga makan sehat belajar bertetangga tersenyum berlatih membaca buku dan hal-hal penting lainnya yang tidak mendesak untuk dilakukan tetapi akan membawa kita kepada pencegahan terhadap hal-hal yang menjadi urgen di kemudian hari.

Demikian pentingnya kita untuk mencari akar masalah dan melakukan hal-hal yang penting tetapi tidak urgent sebagai bagian utama dalam hidup kita.

Semoga bermanfaat.

Selfishness itu penting - Bahagia Diri yang Tak Berimbang

Selfishness - keberfokusan pada diri sendiri sehingga mengabaikan sekitar.  Setiap orang memiliki pilihan mengutamakan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Apapun lebih dahulu dipikirkan diri mereka sebelum yang lain.

Padahal setiap orang memiliki banyak peran dalam hidupnya. Satu sebagai diri sendiri. Dua pasti dia berperan sebagai seorang anak. Bila memiliki adik, dia berperan sebagai kakak. Bila ia memiliki kakak, maka ia memiliki peran sebagai adik.

Bila sudah menikah, berarti dia menjadi suami atau istri dari pasangannya. Dia juga menjadi menantu dari mertuanya. 

Bila diberikan rejeki anak, maka ia menjadi orang tua.

Bia dia bertempat tinggal di sebuah lingkungan, maka ia menjadi seorang tetangga.

Ternyata banyak sekali peran peran yang diembankan kepada seseorang. Tidak hanya berperan sebagai diri sendiri.

Sayangnya kadang kita tidak terlalu memperhatikan peran peran ini.

Coba dicek kembali, dimana waktu kita banyak dihabiskan. Di kantor, peran kita sebagai pekerja. Sebagai manager, peran kita sebagai atasan. Sebagai staff peran kita sebagai bawahan. Sebagai marketing, peran kita sebagai penolong pelanggan yang membutuhkan layanan perusahaan.

Kemudian baru lanjut di rumah, cek kembali berapa waktu yang digunakan, 4 jam ? atau kurang. Bagaimana peran sebagai suami atau istri? Berapa lama? Sebagai seorang ayah atau ibu? berapa lama? Sebagai adik, kakak, menantu, tetangga? Sepertinya semakin sedikit bukan.

Bahkan kadang ada peran peran yang tidak mendapatkan bagiannya. Alias 0 jam.

Kita menjadi abai. Bahkan peran pekerja dibawa sampai ke rumah. Luar biasa.

Berebutlah peran di dalam diri, tentang aku, tentang pekerja, tentang ayah/ibu, tentang suami/istri, dan banyak peran lainnya.

Dan tindakan kitapun sedemikian, banyak sibuk untuk diri sendiri, untuk pekerjaan? Dimana waktu waktu kesibukan kita sebagai ayah, sebagai suami, sebagai adik, sebagai kakak, sebagai menantu, sebagai tetangga?

Padahal secara jujur, pasti setiap orang ingin hidupnya seimbang. Membagi waktu sesuai proporsinya. 

Mana untuk diri, dan mana untuk orang lain.

Mana untuk kewajiban, mana untuk kebutuhan.

Padahal kita melihat diri kita adalah seorang pribadi, seorang pekerja, seorang suami/istri, seorang ayah/ibu.

Dan ujung semuanya adalah demi kepatuhan kita kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

Bila memang akhirnya adalah demikian, mengapa kita abai terhadap beberapa peran yang ada, bahkan sampai kepada terabaikan masa, tidak teralokasikan waktu untuk melakukan peran tadi.

Mana peran sebagai suami yang mendengarkan istri? Mana peran sebagai ayah yang bermain dan mendidik terhadap anak? Mana peran sebagai menantu yang berkunjung di antara waktu? Mana peran kakak atau adik sekedar bertegur sapa? 

Mana peran tetangga yang menyapa dan tersenyum dengan lepas?

Dan lebih parah bila waktu waktu kita banyak dihabiskan di kantor, di tempat hiburan untuk kesenangan diri sendiri.

Bagaimana seharusnya?

Luruskan kembali.

Tetapkan label diri sebagai pilihan prioritas, geser norma norma nilai yang kurang tepat, tetapkan apa saja yang harus dilakukan yang belum ada, dan pilih tempat tempat dimana seharusnya dhabiskan.

Apakah bahagia itu bisa didekati hanya dalam satu atau dua peran saja?

Seimbanglah, selaraskan dalam peran kehidupan.