Apakah Lomba Kuda di Kantor masih relevan?

Bonus melimpah, bisa jalan-jalan keluar negeri atau mendapatkan mobil atau emas 100gram. Kira kira begitu isi dalam sebuah iklan. Sebuah iming iming agar pelanggan tertarik. Pertanyaannya apakah pelanggan tertarik dengan penawaran tadi. 

Sama halnya dengan karyawan yang bekerja di perusahaan. Apakah reward masih relevan untuk jadi hal yang utama? Pertanyaan menarik sebenarnya.

Ini ada sebuah survey yang dilakukan beberapa tahun yang lalu.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte di tahun 2021 terhadap generasi millenial diperoleh beberapa temuan menarik.

Berikut adalah hasilnya. Generasi millenial menilai apresiasi atas ide dan hasil kerja merupakan yang paling banyak dicari (83% responden), disusul suasana kantor yang menyenangkan (68%), fleksibilitas kerja (61%), komunikasi yang fleksibel dan tidak birokratis (60%), serta pelatihan dan pengembangan profesional (57%). Sementara itu, gaji atau imbalan kerja menempati urutan kedelapan (33%).

Menariknya gaji atau imbalan kerja itu prioritas ke delapan, alias bukan alasan utama.

Kalau dirunut lebih jauh. Sebuah produk dikembangkan dengan memiliki fitur fitur yang menyelesaikan masalah dan meningkatkan pengalaman bagi mereka. Demikian pula perusahaan, perusahaan memberikan penawaran kepada para pekerjanya sebagai solusi atas masalah dan harapan karyawan.

Berdasarkan harapan dari para pekerja millenial tadi, maka solusi yang harus diangkat lebih kepada faktor budaya. Apakah perusahaan membentuk budaya penghargaan terhadap apresiasi ide dan hasil kerja, suasana kantor tang menyenangkan, dan seterusnya.

Kalau dirunut lebih jauh. Kita akan menemukan diskusi tentang motivasi orang. Apakah orang bergerak karena rewards atau karena hukuman. Dan yang terkini orang tertarik karena ada drive di dalam dirinya. Pada level tertentu, reward dan punishment sudah tidak lagi relevan. Mereka mencari sebuah wujud kontribusi atas misi mereka.

Dan biasanya ini kembali kepada keinginan keinginan baik. Seperti membuat orang lain lebih baik. Mengentaskan kemiskinan, meningkatkan taraf hidup, membuat orang lebih pandai, memberikan kemudahan hidup. Mereka tidak lagi terjebak dalam kebutuhan kebutuhan untuk diri sendiri.

Ini mungkin salah satu kritik terhadap pengelolaan karyawan. Temukan hal mendasar yang mereka butuhkan. Dan tentunya juga bagi management untuk menetapkan budaya baru yang membawa karyawan bergeser dari sebatas kenyangnya perut ke bahagianya hati. 

Apakah punya anak itu gambling? Bisa baik Bisa Buruk

Ada pertanyaan menarik tadi malam, "Memiliki anak itu gambling? Bisa jadi anak baik, bisa jadi anak kurang baik." Waduh, pertanyaan berat. Berat karena landasannya dan frame berpikirnya harus sesuai dengan pola penanya.

Mungkin karena masuknya mediasosial yang berkampanye tentang "punya anak" adalah merepotkan. Sehingga pola pikir serupa itu masuk. Seramnya kalau pola pikiran ini langsung "ditanam" sebagai kebenaran. Karena berulang ulang sebuah kebohongan bisa dianggap kebenaran. Apalagi dengan banyaknya alasan untuk menjustifikasinya.

Namun bagi sebagian yang masih mau berpikir kritis, tentu akan mencari cara pandang lain, agar sebuah konsep dapat dikaji lebih lengkap lagi cara pandangnya.

Menjawab pertanyaan tadi. Maka kita akan masuk ke sebuah konsep antara gambling dan berencana. Secara mendasar perbedaan keduanya adalah hasil gambling berada di luar kendali.

Sebagai contoh mari kita gunakan koin dengan dua sisi. Sisi kepala dan sisi ekor. Saat sebuah koin dilempar, maka "kendali" terlepas. Tidak ada kendali apapun terhadap koin itu sehingga hasilnya akan pasti kepala atau pasti ekor. 

Itulah salah satu sifat gamling, tidak ada kendali di dalamnya.

Contoh lagi saat kita mungkin bermain alat yang dipencet akan keluar gambar gambar dan pemenangnya adalah yang memiliki gambar yang sama. Saat seorang pemain menekan tombol, maka kendali bukan ada di pemain tetapi ada di alat. Maka apapun hasil gambarnya, ada di luar kendali pemainnya.

Kembali lagi, tidak ada kendali atas hasil adalah gambling.

Sekarang apa sih pilihan lain dari gambling? Yaitu berencana, berprogram.

Salah satu cirinya tadi adalah kendali ada di tangan pelakunya.

Contoh, seorang mengikuti ujian. Dia berencana untuk mendapatkan nilai terbaik yaitu nilai A. Dia mengikuti kuliah sesuai jadwal. Dia membaca buku referensi. Dia mengerjakan soal soal latihan. Dia pelajari soal soal ujian dari tahun tahun sebelumnya. Kira kira bagaimana hasilnya? 

Dia melakukan kendali terhadap hasil. Meskipun banyak potensi a,b,c yang bisa menyebabkan ia memiliki nilai buruk. Semisalkan sakit, mendadak lupa, salah jadwal dan lain lain. Tetapi secara normal orang yang mempersiapkan diri dengan baik, atau berencana dan menjaga rencananya tentu akan mendapatkan apa yang dikerjakannya.

Itulah sifat dari berencana yaitu kendali ada di tangan  pelakunya.

Contoh lagi, seorang pasangan hidup semisalkan jodoh, baik laki laki maupun perempuan. Seseorang berencana untuk menikahi seorang wanita yang baik. Dia merencanakan untuk bagaimana bisa bertemu di tempat yang baik. Semisalkan ke pengajian, ke kegiatan sosial. Kemudian dia memperhatikan bahasa, dan perilaku si calon tadi. Datang ke rumah orang tua wanita tadi melihat bagaimana orang tuanya. Dia sedang berencana dan melakukan rencananya untuk mendapatkan jodoh yang baik.

Apakah pasti baik? Hasilnya belum tentu kata sebagian. Tetapi kalau usaha itu dilakukan kira kira secara normal apakah dia akan mendapatkan hasil yang baik. Bila semisalkan dibandingkan bertemu di tempat yang kurang baik. Bahasanya kasar. Prilakunya kurang baik. Ketika datang ke rumah orang tuanya mendapatkan pengalaman buruk. Kira kira bagaimana, mau dijadikan istri / suami untuk ke depan?

Nah jadinya berencana dan melakukan rencana memiliki sifat ada kendali.

Sekarang kembali kepada kasus tadi. Apakah memiliki anak itu gambling?

Mungkin kembali kepada hal dasar. Apakah sepasang orang tua tatkala memiliki anak, ingin anaknya gagal dalam hidup? Jawabannya tentu tidak.

Setiap orang tentu ingin anaknya sukses, lebih baik dari dirinya, dan bisa mandiri dalam kehidupannya. Sehingga setiap orang tua berencana untuk anaknya sukses. Dia sekolahkan di tempat yang baik. Dia didik tata krama yang baik di rumah. Dia ajari santun. Dia bagi nasehat nasehat baik. Dia tegas agar anaknya disiplin.

Perhatikan, dari apa yang dilakukan orang tua tadi. Apakah orang tua cukup melahirkan anak seperti melempar koin atau memencet tombol gambar tadi? Atau Apakah tua berencana dengan semua eksekusi agar anaknya berhasil?

Jawabannya, orang tua memiliki karakter "berencana". Mereka merancang rencana baik untuk anaknya, dan mengeksekusi rencana baik itu agar anaknya sukses sesuai rencananya.

Semoga menjawab pertanyaan tadi, "Apakah memiliki anak itu gambling?".

Rahasia Cara Mulai Menulis Blog yang Cepat dan Mudah

Mau tahu rahasia menulis blog yang efisien? Ternyata itu dimulai dari target pembacanya. Kemudian lanjut ke struktur isi blog. Bagaimana detilnya? Mari Simak.

Sebenarnya ini adalah bagian dari pembelajaran yang pernah saya dalami kemudian terlupakan seiring minat yang silih berganti datang. 

Namun akhirnya, menemukan bahwa menulis adalah sebuah pilihan yang sangat menarik.

Menulis blog merupakan salah satu media untuk berbagi pemahaman kita seiring belajar di dunia untuk semua orang. Menulis adalah sebuah cara. Blog adalah sebuah media. Media ini bisa berganti timbul tengelam seiring bandul ketertarikan antara visual, auditori dan kinestik. Ada video, ada suara, ada tulisan panjang, ada tulisan pendek, ada kombinasi dari kesemuanya. Intinya adalah menulis blog merupakan sebuah media.

Menulis sama dengan berbicara. Saat menulis kita mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran kita ke dalam kata kata yang tertulis. Seirama dengan berbicara, kita mengeluarkan pemahaman kita ke dalam kata kata yang terucap. Ada yang dinikmati mata, dan ada yang masuk melalui telinga. Keduanya sama, yaitu sebagai cara ide keluar dari diri dan diterima oleh tujuan.

Lalu apa sih rahasia cara mulai menulis blog ternyata mudah. Yaitu dimulai dengan siapa yang akan  membaca blog yang kita tulis.

Sebelum memulai semua, tentu kita harus tahu kepada siapa kita akan berbicara atau menulis. Siapa ini penting karena kita akan memiliki banyak informasi sebelum memulai. Contohnya adalah berapa usianya, laki laki atau perempuan, apa pekerjaannya, apa hobinya, apa masalahnya, apa yang diharapkan mereka.

Kita ambil contoh ya. Semisalkan ada penjual nasi goreng sedang berdagang di depan sebuah apartemen. Kemudian datang seorang pembeli. Pembeli ini menghampiri. Terus diam saja. Kira kira penjual nasi goreng tahu tidak ya, apa yang diinginkan oleh pembeli ini? Tentu tidak.

Tentu penjual akan mulai bertanya. Mau beli nasi goreng, mas? Kalau dijawab iya. Penjual bisa mulai mempersiapkan diri mulai menyalakan kompor, memanaskan minyak dan mulai memasukan bumbu. Ia akan menanyakan lagi, pedas, sedang atau tidak? Semisalkan pembeli menjawab pedas, penjual akan memasukan bumbu cabai yang cukup banyak. 

Kemudian bertanya lagi, telurnya dicampur atau dipisah? Semisalkan dicampur, penjual akan memasukan telur, dan mengocoknya di dalam wajan, terus berlanjut hingga nasi siap dan diserahkan pembeli.

Dari cerita, kita bisa dapat beberapa ide ya. Sebelum memulai ia bertanya tentang apa yang mau dimasak. 

Kalau begitu sama juga dengan menulis blog. Sebelum menulis blog, kita harus bertanya. Siapa yang akan membaca. Apa yang ingin dibaca. Apa gaya bahasa yang akan digunakan. Apa struktur isi yang akan digunakan. Apa model artikel yang akan ditulis.

Bagaimana cara bertanya, kalau kita belum punya pembaca? Riset dulu.

Riset ini bisa dilakukan dengan banyak hal. Semisalkan dengan menggunakan google search. Coba kita ketik sepenggal kata yang sesuai target pembaca. 

Contoh saja misalkan orang yang mencari kerja, apa yang diketikkan "cara mencari lowongan". Nah nanti akan keluar beberapa suggest pencarian lebih lanjut yang memudahkan kita mendapatkan ide ide penulisan yang ada.

Meringkas dari tulisan di atas.  Rahasia cara mulai menulis blog adalah dengan mengetahui siapa calon pembaca kita, dan apa keinginannya. 


Artikel Terkait 


Kesalahan Website ini yang pertama ditemukan

Website itu seharusnya jelas siapa penulisnya, apa yang ditulis, kebijakannya. Nah itu kesalahan dari website ini yang pertama.

Ringkasnya permasalahan website ini adalah tidak terindeks di google, sedangkan di bing aman. Saat mencari jawaban, bertemu dengan website yang sama ringannya, sama sederhananya dan sepertinya sama engine yaitu blogspot tetapi terindeks. 

Salah satu yang terlihat jelas adalah adanya link link standard yang dimiliki oleh sebuah website yang baik. Jadi teringat prinsip lama dalam mengembangkan web. Dari sini dimulailah perbaikan. Apa saja perbaikannya? akan dijelaskan dalam runutan cerita berikut. 

Tanda Kesalahan dari Website 

Bagaimana saya tahu saya kalau website saya ada yang salah salah. Tanyanya adalah saat saya melakukan pemeriksaan index melalui site:awpramono.my.id link yang ditampilkan hanya 2 halaman. Ini artinya ada yang salah.

Perintah site:domain adalah sebuah search keyword di google untuk melihat dari sebuah website, link artikel mana saja yang sudah terindeks.

Kemudian dicek juga di google search console. Ternyata memang ada beberapa masalah di sana. Salah satunya adalah masalah redirect.  

Menemukan Kesalahan Website dengan Melihat yang Lain

Langkah selanjutnya adalah mencari solusi. Dimulai dengan mencari di google. Dan bertemu dengan sebuah blog yang menjelaskan.

Ternyata blognya sederhana dan berisi artikel yang bermanfaat. Dan saya mendapatkan sesuatu yang menarik. Blognya ada link link yang menjelaskan tentang informasi tentang website, ada term of service, privacy policy, disclaimer, about us dan contact us. 

Sebenarnya ini mengingatkan saya pada prinsip dari sebuah website yang terpercaya. Salah satunya adalah kejelasan dari website, baik penulis maupun tentang kebijakannya.

Perbaikan dari Kesalahan Website

Dari kesalahan yang ditemukan, perbaikan bisa dilakukan. Pertama adalah menyiapkan konten statis dalam bentuk halaman page di blogspot. Dibuatlah beberapa halaman tadi yaitu  term of service, privacy policy, disclaimer, about us dan contact us. 

Selanjutnya dibuat menu dalam template di website. Dengan mengedit kode html, menambahkan beberapa baris kode html, jadilah beberapa link ke halaman page. Link tersebut ditaruh dibagian bawah. Dan juga ditambahkan di menu bagian atas.

Bagian ketiga adalah mengisi halaman tadi. Dengan melihat beberapa contoh. Dibuat beberapa halaman sesuai dengan isi baik dengan cara mengetik ulang maupun meng"copy-paste-edit" dari halaman website lain. Biar cepat hasilnya. 

Sekarang kita sudah menemukan masalah dan menyelesaikannya. Pelajaran menarik. Bisa jadi dalam kehidupan kita ada yang kita tidak sadari kalau yang selama ini kita jalani adalah salah. Dengan melihat kehidupan orang lain, kita bisa belajar sesuatu. Dari kesalahan website, kita menarik hikmah dalam kehidupan kita kalau kalau ada yang salah juga di hidup kita yang harus diperbaiki.  


Artikel Terkait 


Bandul Simbolis - Keseragaman baru atau Keterwakilan Bhineka

Upacara bendera hari kemerdekaan menjadi arena simbolis paradigma bernegara. Mulai dari pakaian, pengibar bendera, acara, hingga teknologi.

Saya memperhatikan sebuah cara menampilkan untuk mengedepankan leberagaman dalam kekuatan persatuan. Perbedaan, kebhinekaan menjadi cara menunjukkan hal yang mendasar yaitu persatuan bangsa.

Ada beberapa catatan terkait paradigma ini,

Cara berpakaian

Warna warni dan beragam pakaian daerah menyemarakkan acara upacara. Mulai dari aceh hingga daerah timur indonesia. Mulai dari abang none jakarta hingga raja solo, semua hadir dengan beragam keindahannya. 

Pribadi pribadi yang berbeda pakaian ini bertemu, berinteraksi secara santun dan penuh senyum. Persamaan bahasa dan kehidmatan mengikuti upacara, menyatukan mereka.

Pengibar bendera 

Para pengibar bendera juga merupakan salah satu simbolis dalam kegiatan upacara bendera. Berjumlah 76 anak muda mewakili 36 propinsi di seluruh indonesia. Mulai dari provinsi Aceh hingga Papua Selatan mengirimkan dua wakil terbaik mereka.

Ditempa oleh sebuah tim tentara yang profesional, mereka disatukan dalam sebuah pasukan yang utuh. Membangun kerjasama, salng percaya dan beeganrung satu sama lain untuk memberikan perfomansi terbaik mereka. Asal dan lingkungan mereka yang berbeda melebur dalam kesatuan.

Acara pertunjukan bakat

Keceriaan dalam memaknai kemerdekaan mewakili semangat kreatifitas talenta muda Indonesia. Setelah farel dengan "ojo dibandingke" di tahun 2022, kini lagu "rungkad" menjadi lagu pilihan yang dibawakan oleh putri. Talenta Indonesia muda yang sangat berbakat menuju tingkatan dunia.

Semangat mengisi kemerdekaan dengan memberikan semua kemampuan baik seni, olah raga hingga pengetahuan terbuka lebar. Kesempatan bagi para penerus bangsa untuk berkontribusi dengan sebaik baiknya.

Ajang Teknologi

Bila memperhatikan acara di televisi atau streaming, ada semangat adopai teknologi yang menarik.

Mulai dari kualitas ganbar yang beresolusi tinggi sehingga ganbar terasa jernih hingga teknik teknik pengambilan ganbar seperti penggunaan drone, multi location hingga perpindahan lokasi pengambilan yang apik. 

Semangat menunjukan bangsa ini menuju ke arah yang lebih maju setiap saat. Dari acara yang biasa biasa menjadi acara yang penuh warna dengan teknik penyajian yang tertata baik.

Kembali mengarisbawahi sebuah paradigma dalam bernegara sedang berlangsung. Dimana perbedaan dalam banyak atribut telah menyatukan kekuatan membentuk kemajuan dengan sebuah landasan berbangsa dan bernegara, yaitu Indonesia.

Dirgahayu Indonesia ke78! Merdeka!



Tidak Enak Dibaca

Hari ini saya melihat apa yang sudah dituliskan di blog pribadi ini. Kesan jujur yang saya tangkap adalah tulisannya aneh, tidak enak dibaca.

Kenapa ya tidak enak dibaca? Ternyata ada beberapa hal penting di dalam tulisan saya di blog ini yang saya abaikan. Mau tahu apa saja?

Mendefinisikan Fairness dalam Penilaian Kerja

Penilaian kerja itu penting. Mengapa? Karena penilaian merupakan apresiasi terhadap kontribusi seseorang di dalam sebuah perusahaan. 

Nyatanya ada benturan pada prinsip penilaian yang diterapkan dan eksekusinya.

Apa jadinya bila Kecerdasan Buatan AI digunakan di Jaringan Komunikasi?

Apa jadinya bila Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) diterapkan pada jaringan komunikasi? Bagaimana dengan para engineernya?

Ini adalah tambahan bukti kalau teknologi artificial intelligence sudah merambah kemana mana - ke banyak bidang, termasuk di dalamnya pengelolaan jaringan telekomunikasi atau network internet.

Dalam beberapa trend teknologi, sebenarnya ada konsep AI Driven Network sebagai penanda masuknya era baru dimana pengelolaan jaringan sudah dibantu pengelolaannya oleh kecerdasan buatan di dalamnya. 

Sekilas pertanyaan yang menghampiri saya, terus orangnya kemana? Para network engineer akan mengerjakan apa? Apakah mereka akan menganggur atau di-relearn ke bidang lain. 

Nah, ada sebuah insiatif yang dilakukan oleh TM Forum dengan para pelaku operator telekomunikasi yang bernama autonomous network (AN). Sesuai namanya project ini berfokus pada pengelolaan jaringan secara mandiri (otomatis).

Berangkat dari tantangan bisnis dimana kebutuhan untuk melakukan efisiensi biaya dan menginginkan pertumbuhan dari sisi revenue, bisa juga keinginan lebih membahagiakan pelanggan dengan customer exprience yang lebih baik. 

Dari kebutuhan ini, timbul ide bagaimana kalau customer merasakan banyak hal yang tercipta secara lebih baik seperti tanpa gangguan, tanpa menunggu, tanpa harus bersentuhan. Hal hal ini diharapkan mampu meningkatkan experience kepada pelanggan.

Dan wujudnya adalah bagaimana kalau jaringan atau network bisa melakukan hal hal mandiri. Seperti melayani sendiri, memenuhi kebutuhannya sendiri, dan juga menyelesaikan masalah sendiri. Hal hal yang dilakukan sendiri oleh jaringan inilah yang disebut dengan autonomous network.

Sebenarnya bagaimana autonomous network ini bekerja?

Ini hal yang menarik. Karena pastinya setiap kita memiliki bayangan bagaimana teknologi ini bekerja.

Di sini ada sebuah framework yang dikembangkan oleh TM Forum dengan mengangkat sebuah framework yang terdiri dari beberapa stage yaitu Intent - Awareness - Analysis - Decision - Action - Experience. Ke-enam stage ini yang menjadi bekal penilaian maturity dari penerapan AN di dalam sebuah perusahaan.

Namun kita akan masuk ke dalam bagaimana ini diterapkan di dalam pengelolaan jaringan.

Ternyata, penerapannya cukup mudah dan menarik. 

Begini ceritanya. Semisalkan awareness. Dalam stage ini telah timbul awareness terhadap sebuah pengelolaan jaringan. Semisalkan jaringan internet. Awareness ini semisalkan issue terkait gangguan jaringan. Nah dalam menjaga awareness terhadap gangguan jaringan ini, biasanya dilakukan semisalkan memasang alarm dengan software pengelola jaringan, dan ada petugas operator yang memastikan alarm ini terbaca. Semisalkan software menunjukkan gambar garis berwarna merah, dan hal itu berarti jaringan terputus. 

Nah bayangkan seandainya identifikasi gambar garis berwarna merah ini, tidak lagi dimonitor oleh manusia. Layar tidak harus dilihat terus menerus untuk mengindentifikasi gangguan. Ada sebuah sistem yang cerdas untuk memonitor apakah sebuah jaringan itu baik atau tidak, mengetahui lokasi gangguannya. Nah berarti kita sudah memiliki sistem yang autonomous untuk stage awareness.

Di sini kita melihat perubahan pengelolaan alarm dari people ke system. Dari manusia yang mengelola sehari hari menjadi sistem yang mengelolanya secara cerdas.

Proses ini bisa dilanjutkan ke stage berikutnya. Semisalkan dilakukan analisis oleh sistem apa penyebab gangguan, detilnya seperti apa. Maka proses ini sudah masuk ke tahapan berikutnya yaitu autonomous di tahapan analysis .

Berlanjut lagi, semisalkan ada sistem lain yang bisa memutuskan tindakan, seperti misalkan rekomendasi untuk mengalihkan traffik jaringan ke rute mana yang terbaik maka hal itu sudah memasuki tahapan autonomous decision.

Untuk stage action, semisalkan pengalihan traffic ini sudah tidak lagi manual. Ada sistem yang akan melakukan perintah command di dalam sistem untuk pengalihan traffic jaringan. 

Dan pada akhirnya menciptakan pengalaman zero trouble di sisi customer, dengan self assurance di sisi jaringan. Hal yang menarik bukan?

Kemudian pastinya kita membayangkan betapa rumitnya proses di dalam sistem dan seterusnya. Nah untuk penerapannya adalah beberapa level, misalkan tanpa sistem / manual, dengan sistem berbasis rule, dengan sistem berbasis intelligence namun tidak real time, dan terakhir adalah level tertinggi dimana sistem berbasis intelligence secara realtime.

Sekilas demikian bagaimana autonomous network bekerja dan diterapkan? Bagaimana dapat ide baru, seandainya self-x bisa diterapkan di bidang lain sehingga tercipta zero-x dan pada akhirnya meningkatkan customer experience di sisi pelangan.         

Cerita Ayah tentang Pendidikan itu Penting

Buat saya, Ayah adalah sosok panutan. Bagi beliau, pendidikan adalah penting. Ini sepenggal cerita  kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu.

Ayah tidak lulus SMA, hanya sebatas SD dengan SMP percepatan. Namun beliau di akhir karirnya, bisa menjadi tentara hingga mencapai pangkat Kapten Infrantri. Sebuah pencapaian bagi beliau. Sebuah pencapaian yang luar biasa buat kami sekeluarga.

Salah satu yang menarik buat saya adalah cerita beliau yang saya ingat sejak semasa remaja. Cerita yang mengubah semangat saya untuk berusaha.

Ayah sudah menjadi yatim di usianya yang masih kecil. Bersama dengan adiknya, beliau hidup sangat sangat sederhana dengan ibundanya. Hidup di jaman beliau adalah masa susah. Apalagi ayah berasal di sebuah daerah berkekurangan karena alamnya yang keras di gunung kidul.

Masih ada cerita cerita menyertai jaman beliau kecil, betapa susahnya orang makan. Ada yang makan nasi yang dicampur dengan ketela atau singkong yang dikeringkan. Ada yang makan telur saja tidak seminggu sekali. Kalaupun ada telur dibagi bersama adik dan ibu.

Termasuk soal pendidikan. Ayah dan adiknya sekolah karena hendak sendiri. Hidup yang serba susah, menjadikan sekolah urusan terakhir. Berjalan tanpa alas kaki, baju seadanya sudah jadi bagian keseharian. Bahkan ada cerita yang membiaya sekolah adalah kakeknya.

Sampai ada masa dimana kakek tidak membiayai lagi.

Saat itu ayah masih ingin sekolah. Meminta ibundanya yang kerja mengolah sawah hanya buat hidup saja. 

Ayah berinisiatif untuk bekerja dengan membantu menjual batu gamping, batu kapur. Saat itu batu kapur diambil dari area sekitar kemudian dibawa ke tempat penjualnya di dekat kota. 

Jarak ke kota bukan dekat. Ayah harus memikul batu kapur seharian untuk sampai ditempat penjual tanpa alas kaki dengan adiknya yang kecil. Saat itu ayah sekitar 8-10 tahun. Haus pasti. Panas terik juga. Belum lagi beban batu yang harus diangkutnya. Tidak bawa bekal, tidak bawa botol minum. 

Pastinya sangat luar biasa, peristiwa itu. Keinginan sekolah mengebu yang luar biasa, mengerakan semangat hidup untuk mendapatkan pendidikan. Jalan bergunung ayah lalui untuk bisa mendapatkan uang yang tidak seberapa hanya untuk membayar sekolah.

Pendidikan adalah pemutus kemiskinan. Seseorang yang berpendidikan memiliki peluang lebih besar untuk hidup lebih sejahtera. Karena semuanya kembali kepada rencana Allah SWT, namun ikhtiar untuk mendapatkan pendidikan adalah sebuah keharusan. Bila bukan untuk orang banyak, minimal untuk diri sendiri, atau keluarga sendiri sehingga tidak menjadi beban orang lain.

Menurut Saya kata Srimulat

Ada fenomena menarik yang saya temui belakangan yaitu frasa 'menurut saya'. Sebuah cara pandang terhadap suatu keadaan keseharian. 

Menurut saya, "cara kerjanya begini".

Nah ini awal kebingungan dalam sebuah unit organisasi. apakah benar menurut saya? bagaimana menurut teman saya? bagaimana menurut boss saya? bagaimana menurut organisasi ini?

Ada beberapa kata yang bisa menjelaskan berikutnya yaitu referensi dan adopsi. Referensi memberikan penjelasan atas dasar cara berpikirnya . Sedangkan adopsi untuk digunakan berarti sudah memasuki tahapan penerapan.

Belajar dari memahami sebuah keadaan atau situasi, kita bisa mengamati apa sih referensi yang kira kira digunakan? Dari sini kita bisa memahami apa yang "menurut saya" tadi

Nah tantangannya adalah kalau referensi adalah dirinya sendiri. Artinya referensi adalah pemikirannya sendiri yang dikembangkan. Bisa jadi ini berasal dari pengalaman yang dialami kemudian tumbuh kebijakan baru yang diraih.

Terlepas dari itu untuk memahami hal menurut saya ini mungkin bisa dengan bertanya mengapa anda berpikir sesuatu "menurut anda".