The One-Minute Margin

Ada fenomena menarik di beberapa stasiun LRT Jakarta bila Anda berada di sana sekitar 5 sampai 10 menit sebelum jam 8 malam atau jam 9 pagi. Di sana akan ada belasan orang berdiri, bersandar, malas bergerak di sekitar pintu masuk gerbang elektronik yang kosong, hanya sesekali ada orang yang melintas. Mereka tidak sedang mengantre karena kerusakan sistem atau kendala teknis. Mereka bergerombol, diam, dengan tangan memegang kartu uang elektronik dan mata yang sesekali melirik tajam ke arah layar jam jadwal keberangkatan atau layar ponsel.

Begitu angka di jam digital berpindah dari 19.59 ke 20.00, suasana berubah drastis. Bak pelari yang mendengar tembakan pistol start, gerombolan ini serentak maju, mengantre dan menempelkan kartu mereka ke mesin pembaca. Fenomena yang sama terulang pada pukul 9 pagi. Perilaku warga kota yang biasanya tergesa-gesa mengejar waktu menjadi sangat sabar dalam mengatur waktu, lalu kembali seperti semula dalam waktu 2 menit saja.

Kok bisa ya, selisih detik bisa membuat banyak orang bergerak serentak ? Mengapa hal sekecil 1 menit dapat mengubah arus pergerakan manusia di sebuah stasiun besar?

Bila Anda mencari jawaban, ternyata jam dinding stasiun bukanlah benda pemberi waktu, melainkan bagian dari struktur “akuntansi” yang ada di dalam kepala setiap orang.

Kondisi seperti ini ternyata dapat ditemukan penjelasannya, oleh Richard Thaler, seorang pakar ekonomi peraih Nobel yang mengungkap rahasia di balik perilaku unik ini melalui konsep Akuntansi Mental. Dalam artikelnya,  “Mental Accounting Matters” yang ditulis di tahun 1999, Thaler menjelaskan bahwa manusia mengelola uang secara fleksibel. Dalam pikiran manusia, uang dikelompokkan ke dalam “kotak” atau rekening mental masing-masing sesuai dengan penggunaannya 

Di sinilah letak kejutannya. Saat membayar segelas kopi seharga 40.000 di kafe favoritnya, orang tidak berkeberatan sama sekali. Namun, pada orang yang sama, dia bisa merasa “rugi” secara psikologis jika harus membayar Rp10.000 tambahan untuk layanan transportasi. Mengapa? Dalam pikiran orang, kalau mau minum kopi, itu sudah ada posnya, yaitu “hiburan” atau “gaya hidup” yang lebih diatur, sedangkan biaya perjalanan harus ketat dan efisien karena berasal dari pos “transportasi”.

Menunggu di depan gerbang LRT hingga jarum jam menunjukkan pukul 8 malam bukan sekadar urusan hemat recehan. Itu adalah sebuah ritual pertahanan kognitif. Ini adalah cara individu memastikan bahwa “pos transportasi” mereka tidak “bocor”. Bagi pikiran manusia, kehilangan Rp10.000 karena salah tapping satu menit lebih awal terasa seperti kekalahan besar dalam sistem akuntansi pribadi mereka—sebuah pelanggaran terhadap prinsip ekonomi yang kita buat sendiri di dalam kepala.

Pada akhirnya, kerumunan di depan gerbang stasiun itu adalah bukti nyata bahwa kita semua adalah “akuntan” bagi diri kita sendiri. Kita tidak hanya menghitung uang; kita menghitung nilai, perasaan, dan waktu—satu menit demi satu menit.

Bagaimana ikutan menunggu jam 9 pagi atau jam 8 malam? Pintu elektroniknya nggak rusak lho.

References
Thaler, R. H. (1999). Mental accounting matters. Journal of Behavioral decision making, 12(3), 183-206.

PS:
Masih tentang LRT, mau tahu kenapa banyak orang membaca buku di LRT sekarang?

The Paper Resistance

Fenoma Membaca Buku di Area Publik Di kafe-kafe yang bising di sekitaran Jakarta Selatan atau di sela-sela padatnya gerbong KRL rute Bekasi, sesuatu yang "aneh" sedang terjadi. Di tengah lautan kepala yang menunduk menatap layar bercahaya, Anda akan menemukan satu atau dua orang yang memegang benda dari masa lalu, ya, sebuah buku fisik. Mereka membalik halaman dengan tangan, menandai pojok kertas, dan tidak terganggu sedikit pun oleh notifikasi yang biasanya mengatur hidup kita. Sekilas, ini tampak seperti tren gaya hidup vintage atau hanya sekadar aksi pamer intelektual di media sosial. Namun, jika kita melihat lebih dekat, fenomena ini adalah sebuah anomali yang mulai konsisten.

Bagaimana mungkin benda yang "berat", tidak memiliki fitur search, dan butuh pencahayaan manual ini bisa bertahan — bahkan mulai kembali diminati — di era di mana semua informasi dunia tersedia dalam satu jentikan jari? Pertanyaannya, adakah yang memicu fenomena ini? Apakah kita sedang menjadi saksi dari sebuah bentuk perlawanan diam-diam terhadap tirani algoritma media sosial? Atau ada sesuatu yang lebih mendalam lagi sedang terjadi di dalam otak kepala kita saat jemari kita menyentuh tekstur kertas?
membaca buku membangun ulang otak dan membekas secara biologis.jpg
Jawabannya ternyata lebih menarik daripada sekadar masalah perubahan budaya. Dari penelitian yang dilakukan di Emory University, ada temuan yang berbeda. Para peneliti menemukan bahwa proses membaca novel secara mendalam adalah peristiwa biologis. Dan ini dibuktikan dengan memanfaatkan teknologi Magnetic Resonance Imaging atau MRI selama 19 hari pada 21 responden. Ringkasnya, saat seseorang membaca, ia masuk ke dalam sebuah aliran narasi yang panjang; terjadi perubahan konektivitas di sekitar bagian otak yang mengelola bahasa dan sensorimotorik. Hebatnya lagi, perubahan ini tetap tersimpan meskipun halaman buku telah ditutup. Efek biologis dari perubahan ini tetap bertahan selama beberapa hari ke depan. Otak kita secara harfiah "ditulis ulang" sementara, membuat kita seakan-akan merasakan pengalaman fisik dari karakter dalam cerita melalui mekanisme embodied semantics.

Sehingga fenomena yang terlihat seperti tren nostalgia saat orang-orang kembali memegang buku di tempat umum. Sebenarnya, itu adalah upaya kita untuk mengembalikan fungsi kognitif untuk fokus secara mendalam, kembali ke buku. Buku adalah solusi teknologi untuk memulihkan kontrol pada otak kita sendiri. Kecanggihan masa depan terjungkal oleh lembaran-lembaran kertas yang dibundel menjadi buku, sebuah artefak dari masa ratusan tahun lalu.

References
Berns, G. S., Blaine, K., Prietula, M. J., & Pye, B. E. (2013). Short-and long-term effects of a novel on connectivity in the brain. Brain connectivity, 3(6), 590-600.